RSS

Rabu

ARTI HIDUP DAN KEHIDUPAN BAGI SEORANG MUSLIM

Firman Allah dalam surat Al-Mulk : 2 :


Artinya : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.


Manusia akan bersikap dan bertingkah dalam hidup dn kehidupannya didunia ini menurut pengertian yang didapatnya, keyakinan yang diyakini dan kesadaran tentang arti hidup dan kehidupannya.
Seorang penganut faham (isme) sekuler, vriy denker ataupun yang berfaham materialisme, dia berpandangan bahwa hidup dunia ini adalah untuk hidup. Tujuan segala amal usahanya diletakan pada hidup ini, dia tak mempunyai keyakinan tentang kehidupan diakhirat sebagai pertanggungan jawab amanat Allah atas dirinya. Kebahagian yang dicari, dikerjarnya adalah semata-mata kebahagian didunia yakni dengan dapat terpenuhinya tuntutan dan keinginan hawa nafsunya. Akibat dari pandangan hidup demikian, menonjolkan sifat individualisme, mementingkan diri sendiri, persaingan bebas tanpa mengindahkan norma-norma sosial dan nilai-nilai kemanusian serta menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial dan kekacauan (frustasi) jiwa. Lahirnya kebudayaan materialisme adalah dari pandangan hidup yang model demikian, yaitu kebudayaan yang ditujukan untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya kebinatangannya. Bagi penganut tata cara (agama ?) selain Islam, seperti Kristen, Yahudi, Hindu-isme, dimana agama-agama tersebut telah kehilangan fungsinya untuk dapat mengatur kehidupan manusia pada abad sekarang ini yang persoalannya sedemikian kompleks disebabkan daripada isi yang terkandung didalamnya, maka hidup mereka adalah untuk mati, yaitu untuk kehidupan diakhirat nanti, dimana kehidupan didunia hanyalah merupakan hukuman yang harus ditebus bagi kepentingan hidup nanti.


Ketidakmampuan agama-agama tersebut untuk mengatur, membina dan mengarahkan kepada ketertiban dan kedamaian dunia, mengakibatkan pengisolasian (pemisahan) agama dari percaturan hidup kemasyarakatan, sehingga agama diisolir bagi kehidupan dalam gereja atau kuil saja. Sedangkan kehidupan diluar gereja diarahkan kepada akal dan hawa nafsu-nafsu manusia, karena itu seorang penganut agama tersebut dapat menjadi seorang shaleh dalam gereja, tapi diluar gereja ia akan menjadi seoarang tak berkprimanusian dan gemar melakukan maksiat. Pada hari minggu/sabtu mereka pergi ke gereja untuk berdoa, namun pada hari-hari biasa itu, mereka berusaha untuk menerkam sesamanya.
Bagi seorang muslim yang memahami dan menyakini ajaran-ajaran Islam, hidup ini adalah perjuangan untuk melaksanakan ajaran dan amanat Allah. Hidup didunia ini harus dijalani bagi kepentingan didunia dan diakhirat. Banyak sekali Nabi Muhammad SAW memberikan penjelasan-penjelasannya


“Bukanlah yang paling baik diantaramu itu yang meninggalkan kehidupan dunianya dengan hanya mementingkan akhirat saja, atau sebaliknya. Tapi yang paling baik diantaramu itu adalah yang mengambil kedua-duanya”


“Sebaik-baiknya kendaraan adalah kehidupan dunia, karena itu kendarailah dia sebaik-baiknya sebab itulah yang akan membawamu ke akhirat nanti”.
“Sebaik-baik dunia adalah merupakan kaca pemantul untuk kehidupan akhirat” – “Kehidupan dunia adalah teman peradaban untuk kehidupan akhirat kelak”.


Bagi seorang muslim, kehidupan dunia ini mempunyai arti dan nilai perjuangan yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah nanti. Karena itu kehidupan didunia dan akhirat mempunyai hubungan dan sangkut paut yang erat. Kebahagian manusia diakhirat (jannah) tergantungan kemauan dia menata kehidupan indah dan bahagia selama dia hidup didunia diatas garis ketentuan Allah.
Dengan demikian jelaslah bahwa menurut pandangan Islam, lahir, hidup dan pembinaan kehidupan didunia ini bukanlah bersifat kebetulan, bukan pula sebagai hukuman atas dosa yang telah dilakukan nenek moyang mereka dan bukan pula atas dasar iseng penciptaannya yakni Allah, sebab


Allah tidak menciptakan sesuatu itu karena iseng, main-main, bathil dan sia-sia, akan tetapi manusia itu dihidupkan, dilahirkan dan dimatikan nantinya dengan mambawa maksud dan tujuan yang amat mulia, yaitu perjuangan untuk berbuat indah, tepat persis diatas amanat Allah Al-Qur’an menurut praktis Sunnah Rosulnya dan sebagai batu ujian, manakah yang paling indah menata hidup dan kehidupannya diantara mereka. Segala potensi dan kemampuan yang diberikan kepada manusia, segala kelebihan dan keistimewaan yang dianugrahkan kepada manusia adalah merupakan prasaran, alat perlengkapan dan kesempurnaan untuk dapat melaksanakan amanat Allah tersebut.


Karena itu hidup bagi seorang Muslim bukanlah merupakan tujuan, hidup ini bukanlah akhir dari satu perjalanan. Segala apa yang dimilikinya, baik berupa harta, keluarga, pangkat dan kedudukan dan segala macam aspek-aspek daripada hidup dan kehidupan ini bukanlah merupakan “tujuan”, melainkan “teknik, alat” yang harus dimanfaatkan dan difungsikan dalam rangka pelaksanaan amanat Allah.


ISLAM ADALAH TATACARA HIDUP YANG MEMBAWA PERDAMAIAN


1. Al-Qur’an Surat Ali Imran : 19


Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.


2. Al-Qur’an Surat At-Taubah 33 :


Artinya : Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.


3. Al-Qur’an Surat Ar-Rum 30 :




Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],


Memahami dinul islam sebagai satu tata cara hidup dan kehidupan yang membawa perdamaian, perlu kita kaji dahulu satu persatu, baik ditinja dari segi bahasa atau makna yang dikehendaki oleh yang mengajarkannya (Allah).
Arti kata-kata “Dinul Islam” dan maksudnya :


a. DIN : Dalam kamus Al-Munjid hal. 231 :
Millah, mazhab, Tadbir = tuntunan, jalam, tatacara. Sebutan-sebutan yang diberikan alQur’an:
Thariqah, Shirath, Sabil, dlsb = idem.


b. ISLAM : Hubungannya dengan kata DIN adalah shigat-Masdar dari Aslam-Yuslimu (fi’il
muta’addi a) Artinya meyelematkan, mendamaikan, mensejahtrakan.


c. DIENUL ISLAM : Sistem keselamatan, mendamaikan, mensejahtrakan. Tata cara hidup dan kehidupan
perdamaian, kesejahteraan dan makasudnya : Dinul Islam adalah satu2nya tata-cara hidup dan kehidupan yang mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan kepada manusia dalam kehidupanan-nya didunia di akhirat kelak.


Perlu kita perhatikan se-baiknya bahwa Dinul Islam adalah satu-satunya tata cara hidup dan kehidupan yang diajarkan Allah melalui para Rasul-Nya untuk dan keselamatan manusia sebagai objek sasarannya.
Karena Dinul Islam ini dari Allah, maka pastilah Ilmu Allah yang mengisi dan menentukan jalannya Dinul Islam. Tegasnya luar dari Ilmu Allah alQur’an manurut sunnah Rasul tidak akan mampu memberikan kesejahteraan dan keselamatan seperti yang dimaksudkan Dinul Islam itu sendiri. Memahami Dinul Islam tanpa kita memahami AlQuran dan sunnah Rasul merupakan satu hal yang mustahil.




AlQur’an disebut sebagai Ilmu Allah, berdasarkan Surat Ar-Rahman 1 – 4 :


Artinya : “Ar-Rahman (Allah), telah mengerjakan Ilmu-nya ya ‘ni AlQuran. Dialah (Allah) yang telah menciptakan manusia kemudian mengerjakannya al-bayan (penjelasan isi alQuran atau bagaimana menjelaskan isinya)”.
Dalam Sebuah Hadits Atsar Shahabat, Nabi menjelaskan


“Islam adalah tata-cara hidup dan kehidupan perdamaian yang berteorikan AlQuran (Ilmu) dan praktisnya (amalnya) adalah total kehidupan Nabi Muhammad (Sunah Rosul)”.
Nabi Muhammad adalah Rosul Allah yang bertugas membayankan alQur’an dan bertugas memberikan contoh pelaksanaannya sehingga ilmu Allah ini menjadi landasan hidup setiap penganutnya.


a. Al-Qur’an Surat An-Nahlu 44 menjelaskan :


Artinya : keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,


b. Al-Qur’an Surat Al-Ahzab 21 menjelaskan :


Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.


c. Al-Qur’an sebagai jiwa syari’at Islam dan penegak islam, dijelaskan oleh hadits Nabi riwayat Abu Syek


“Ilmu (Al-Qur’an dan Sunah Rosul) adalah jiwanya Islam dan yang menjadi tiang tegaknya Iman”.


Telah diuraikan pada bagian-bagian terdahulu, bahwa manusia lahir kedunia ini tidak membawa “Ilmu apapun” untuk membina “kebudayaan hidup”nya. Didunia ini. Namun Allah telah mempersiapkan alat-alat untuk dapat digunakan menerima ilmu, yaitu “sam’u, basher dan fuad”. Seperti halnya masalah phisika manusia, ia tak akan mampu untuk membedakan warna putih, hitam atau biru tanpa terlebih dahulu adanya cahaya (NUR) yang memantul kedalam matanya. Demikian pula halnya dalam sosial budayanya. Dia tak akan mampu untuk membedakan mana yang disebut “haq”dan mana yang “bathil” mana “benar” dan mana “salah” kalau tidak terlebih dahulu ada NUR (Cahaya, Ilmu) yang masuk kedalam fuadnya. Karena itu, betapa manusia membutuhkan kepada pembimbing dan petunjuk yang mutlak kebenarannya demi kebahagian hidup manusia didunia atapun nanti nanti bila dihadapkan kembali kepada penciptanya.


Suatu yang mutlak, sudah barang tentu harus berasal daripada yang mutlak pula yaitu Allah SWT, pencipta pembimbing hidupnya.Untuk itu Allah yang Rahman telah mengajarkan kepada manusia satu DIN (tata cara hidup dan kehidupan) yang mampu untuk mengahantarkan ke dalam bahagia dunia dan akhirat seperti yang diinginkan manusia itu sendiri, diutus pula Rosul-Nya dengan membawa Ilmu Allah untuk memberikan penjelasan atau contoh pelaksanaan dari Ajaran Allah tersebut. Itulah Dinul Islamnya itu Dinul Fitrah, satu tatacara hidup dan kehidupan yang sesuai dengan kebutuhannya. Sesuai dengan tempat yang didiaminya dan lebih dari itu sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.


Syari’at (din) Islam adalah satu syari’at yang telah diwahyukan Allah kepada para Rasul-Nya sejak Nabi2 terdahulu hingga sekarang ini yaitu hingga Nabi terakhir Muhammad SAW. Karenanya Islam bukanlah merupakan Din (agama?) terakhir seperti halnya kebanyakan anggapan manusia, tapi Islam adalah Din yang pertama ada didunia ini dan demikian pulalah seterusnya sampai datang hari qiyamat, dimana dalam surat Ar-Rum 30 disebutkan arab tulis “tidak mungkin mampu untuk dirobah dan jangan berusaha mencoba untuk merobahnya baik phisika manusia ataupun budayanya itu sendiri bila keselamatan yang diinginkan”.




Al-Qur’an Surat Asy-Syura 13 menerangkan :


Artinya : Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Itulah yang dimaksudkan dengan Islam sebagai Din yang mampu mewujudkan kebenaran muthlak dan kedamaian hakiki.


Lihat Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 85 :




Artinya : Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

0 comments: