RSS

Sabtu

Arti Iman

Artinya : “Tidakkah engkau perhatikan mereka yang telah pernah menerima bagian warisan Ilmu dari kitab masa lalu, padahal tanggapan dan tindakan mereka menurut gambaran teori-teori yang tidak menentu, dibawah pukauan kultus-kultus individu, dukun-dukun, jinun-jinun. Bahkan mereka berani menyombangkan diri kepada orang-orang kafir bahwa mereka itu lebih tepat hidupnya disbanding manusia-manusia lainnya yang beriman kepada Allah”. (Qs. Annisa : 51)                                                                                                           
Secara Khusus 
Iman adalah kesatuan antara tanggapan, ucapan dan perbuatan yang dibentuk oleh Ilmu-Nya Allah, Al-Qur’an Sunah Rosul, jelasnya : Kesatuan antara tanggapan, ketaatan (ﺴﻤﻌﻨﺎﻭﺃﻃﻌﻨﺎ) yaitu yang didalamnya terdiri dari unsur “tan dan mau” untuk hidup semata-mata menurut Ilmu-Nya Allah.

Al-Qur’an surat An-Nur 51 :  
Artinya : “Sesungguhnya jawaban orang mukmin, apabila mereka diajak untuk bersikap menurut Ilmu Allah (Al-Qur’an dan Sunnah Rosul) agar mereka mau mentrapkannya dalam norma-norma kehidupan ialah : kami telah mendengar dan kami mau mentaati ajakan itu!. Mereka itulah orang-orang yang akan tampil sebagai pemenang dalam kehidupan ini”.

     Yaitu terkait kepada enam (6) faktor pengikatnya yang biasa disebutkan RUKUN IMAN (kerangka         dasar pokok). Dimana satu sama lain dari keenam Rukun Iman itu merupakan mata rantai berjalan kelindang yang oleh Nabi Muhammad dijelaskan sebagai berikut.

a.       IMAN KEPADA ALLAH :
Ialah tahu dan mau menurut tahu (Ilmu) dan mau-Nya Allah.
Allah sebagai sumber utama Rukun Iman itu adalah merupakan sumber ilmu yang Maha Alim, yang luasan Ilmu-Nya meliputi :

1.      Ilmu penciptaan semesta alam yang maha luas ini berikut sistem geraknya, yang berproses menuju keakhiratnya, dimana dengan adanya wujud semesta yang maha indah dan penuh dengan aneka macam keajaiban ini. Boleh dikatakab sebagai buku besar yang tak akan habis-habisnya kita baca (Q.S. Luqman 26-27, Al-Kahfi 109) dan ini merupakan objek pembahasan dari :

2.      Ilmunya yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nabi yang merupakan tetesan dari maha samudra Ilmu-Nya Allah secara keseluruhan, dan Ilmu ini, Allah wahyukan kepada Nabi-Nabi lewat malaikat. Dengan demikian, tau dan mau menurut maunya Allah itu, berarti pula :

b.      IMAN KEPADA MALAIKAT ALLAH
Ialah tahu dan mau menurut maunya Malaikat yang sudah sepenuhnya memenuhi  mau-Nya Allah, Malaikat sebagai salah satu faktor dari Rukun Iman itu adalah makhluk Allah yang sudah sepenuhnya sujud (lihat kembali penjelasan An-Nahlu 49 hal. 19) yang memanggul tugas untuk memelihara kelangsungan hidup semesta ala mini seperti ditegaskan dalam 

al-Qur’an surat al-Mukminun 7 :
ﺍﻠﺬﻳﻦﻳﺣﻤﻠﻮﻦﺍﻠﻌﺭﻦﻭﻤﻦﺣﻭﻟﻪﻳﺳﺑﺣﻭﻦﺒﺣﻤﺪﺭﺑﻬﻡﻭﻴﺅﻣﻨﻭﻦﺑﻪﻭﻴﺴﺘﻐﻔﺭﻭﻦﻠﻟﺬﻳﻦﺁﻤﻨﻭﺍﺮﺑﻨﺎﻭﺴﻌﺖﻜﻝﺷﺅﺭﺣﻤﺔﻭﻋﻟﻣﺎﻔﺎﻏﻔﺭﻟﻟﺬﻳﻦﺁﻤﻨﻭﺍﻭﺍﺘﺒﻌﻭﺍﺴﺑﻳﻟﻚ........

Artinya : “Mereka itu (para malaikat) yang melaksanakan tugas pengaturan wujud bangunan Ilmu secara menyeluruh, yakni mereka berbuat sibuk (tasbih) dengan penuh kekaguman terhadap Allah sebagai pembimbing mereka dan sepenuhnya mereka Iman Kepada-Nya, serta menyampaikan harapan mukmin dalam merombak segala sesuatu yang merupakan realisasi rancangan pasti Ilmu Allah yang meliputi keseluruhan. Dari itu ampunilah mereka yang benar-benar mau kembali dan meniti kehidupan menurut sistem  penataan-Mu serta hindarkan mereka dari siksa yang amat menakutkan”.

Disamping itu, Malaikat bertugas untuk menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan memberikan pengawalan dalam usaha merealisasi Ilmu tersebut dan bahkan malaikat itu bertugas untuk mengawal setiap manusia mukmin agar mempunyai sikap tidak gentar dan prihatin didalam memenuhi kehadirannya didunia ini.

Al-Qur’an surat Fushshilat 30 :  

Artinya : “Bagi mereka yang telah menyatakan sikap : pembimbing kehidupan kami adalah Allah yang telah mengajarkan Ilmu-Nya Al-Qur’an, kemudian dibarengi dengan sikap patuh dan ketentuan Allah (Istiqamah), mereka akan dikawal oleh malaikat agar mereka tidak mempunyai sikap gentar dan prihatin (didalam memenuhi kehidupannya didunia ini) dengan dibarengi gairah kehidupan Jannah seperti yang telah dijanjikan”.
Dalam hubungan ini, maka Iman Kepada Malaikat yang paling pokok adalah Iman kepada apa yang disampaikan Malaikat kepada para Nabi sebagai amanat dari Allah. Dengan begitu berarti sudah memenuhi maunya Malaikat dan maunya Allah, yakni berarti pula :

c.       IMAN KEPADA KITAB ALLAH :
Ialah tahu dan mau menurut kitab-kitab Alla. Kitab-kitab Allah sebagai salah satu factor dari rukun iman ini adalah merupakan lembaran teoritis yang mengungkapkan mau-Nya Allah yang sudah membentuk maunya para Nabi Beserta orang-orang mukmin pengikutnya, yang kesemua kitab-kitab Allah itu mempunyai prinsip-prinsip dasar yang sama, yaitu yang diajarkan kepada Nabi Muhammad berupa Al-Qur’an yang mengkodifikasikan kitab-kitab Allah yang telah diwahyukan kepada Nabi-Nabi sebelumnya.Kitabullah atau Ilmu Allah ini telah menjalin prikehidupan Rosul (Sunah Rosul) sehingga Iman Kepada Allah berarti pula :

d.      IMAN KEPADA ROSUL-ROSUL ALLAH :
Ialah tahu dan mau mencontoh prikehidupan Rosullah (Sunnah Rosul) yaitu sebagai tauladan yang indah (ﺃﺴﻭﺣﺳﻨﻪ) didalam penuangan Ilmu Allah itu. Dwi tunggal kitab-kitab Allah dan sunnah para Rosullah inilah yang merupakan bekal utama didalam mengatur kehidupan ini menuju kepada titik terakhir yang dijanjikan Allah. Dengan demikian berarti pula “

e.       IMAN KEPADA YAUMUL AKHIR
Ialah tahu dan mau menuju kepada peredaran hidup terakhir, yaitu kondisi kehidupan al-Jannah sebagai titik akhir dari proses kehidupan mukmin yang merupakan kehidupan/kebangkitan kembali dari periode kehidupan selama didunia ini dengan melalui proses kehancuran semesta semesta kearah bangunnya semesta baru. Orang yang iman kepada Yaumil Akhir berarti orang yang mempunyai harapan hidup dimana datang dalam keadaan yang sangat gemilang. Ketitik tujuan mana terbentanglah satu garis lurus guna memutarkan roda hidupnya secara tepatnya yaitu dalam kedudukannya sebagai “khalifah” dengan Malaikat sebagai pengawalnya, diatas dasar kitabullah sebagai pedoman dasarnya, Sunnah Rosul sebagai pedoman pelaksanaannya. Kemudian dijabarkan kedalam bentuk qadar (rancangan pasti) hidupnya, sehingga dengan demikian berarti pula :

f.        IMAN KEPADA QADAR ALLAH
Ialah tahu dan mau menurut rancangan hidup dari Allah, yaitu secara positif memenuhi :
1.      QADAR KHOER : ialah rancangan yang baik yang didasarkan kepada Ilmu Allah, yaitu :
a.       Rancangan yang menyangkut dengan pengolahan alam fisika lingkungannya sebaik dan seindah mungkin, dimana dengan memenuhi hukum alam sebagai objek garapannya. Itu, orang mukmin mau dan mampu untuk memprodusirnya dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu digandengi pula :

b.      Rancangan yang menyangkut hubungan dengan manusia secara baik pula dengan mengandung konsekuensi pendistribusian hasil-hasil produksi tadi secara adil dan merata sesuai dengan petunjuk ilmu.
Qadar Khoer ini adalah merupakan

2.      QADAR SYAR : ialah rancangan buruk atau jahat, yakni rancangan hidup yang menyimpang dari garis ketentuan Allah, baik didalam pengolahan dunia fisika lingkungannya maupun didalam penataan dunia budaya.

Qadar Syar ini adalah rancangan hidup sebagai produk dari pengaruh subjektivismenya (hawahu = hubbusy-syahwat) manusia itu sendiri yang senantiasa cenderung kearah penyelewangan, dan ini merupakan bibit yang akan tumbuh menjadi pohon kehidupan Naar yaitu satu kehidupan penakan api yang membakar tanggapan manusia kearah saling bermusuhan, peras memeras, renggut jantung manusia, hisap darah dimana pada hari qiyamat kelak akan mendapat kebangkitannya dengan kondisi yang lebih gawat lagi.

Demikianlah yang disebut dan dimaksud dengan “Arkanul Iman” kerangka dasar pokok yang cabang-cabangnya oleh Nabi Muhammad saw. disebutkan :
ﺍﻻﻴﻤﺎﻦﺑﻀﻊﻭﺷﺑﻌﻦﺸﻌﺑﺔ،ﺃﻋﻼﻫﺎﻘﻭﻝﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲ ﻭﺍﺩﻨﺎﻫﺎﺍﻤﺎﻄﺔﺍﻷﻨﻰﻋﻦﺍﻟﻃﺭﻴﻖﻮﺍﻠﺣﻳﺎﺀﺷﻋﺑﺔﻤﻦﺍﻻﻳﻤﺎﻦ
“bahwa iman itu mempunyai 70 cabang lebih sebagai bentuk lahir, dimana yang menjadi akar tunggangannya adalah “ﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲ “ (yaitu prinsip dasar yang memberikan pandangan bahwa tidak ada lahi sumber gerak lain dijagat raya ini kecuali Allah ), sedangkan yang menjadi ranting terkecil adalah “ﺎﺍﻤﺎﻄﺔﺍﻷﻨﻰﻋﻦﺍﻟﻃﺭﻴﻖ” yakni kesadaran untuk menyingkarkan rintangan-rintangan dijalan yang dapat membahayakan manusia-manusia yang melaluinya, 

kemudian lagi rasa malu untuk berbuat menyeleweng dari ketentuan Allah, mmerupakan satu bentuk dari sikap Iman” HR. Muslim
Dengan ditandaskan bahwa Iman itu mempunyai 70 cabang lebih sebagai bentuk lahirnya, maka kita mendapat gambaran bahwa masalah Iman ini adalah sangat fundamental dan kompleks sekali, dimana ke 70 cabang lebih bentuk prilaku perbuatan itu tidak mungkin kalau hanya mencapai wujud yang enam dalam rukun Iman tadi.

Karena itu ke 70 cabang lebih bentuk-bentuk amal itu adalah merupakan manisfestasi daripada yang sudah diketahui, diyakini dan dimaui-Nya, dan Ilmu ini adalah Al-Qur’an yang justru oleh Nabi Muhammad ditandaskan sebagai tiang tonggaknya Iman.
Seseorang tidak bisa dikatakan Iman tanpa adanya unsur “tsu dan mau” menyusun kehidupan menurut al-Qur’an ini. Oleh karena itu dalam penggunaan istilah Iman, terutama dalam rangkaian Rukun Iman tadi, tidak cukup dengan hanya kandungan “percaya” saja. Sebab hanya akan mengaburkan unsure-unsur yang ada dibalik Iman itu dan membawa sosialisasi kepada dogmatisme.

Jikalau Iman cukup dengan hanya memiliki unsure percaya saja. Maka sebenarnya Iblis sendiri sudah jauh lebih dahulu memilikinya, tetapi mengapa kemudian oleh Allah dikatakan oknum kafir?. Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kekafiran Iblis itu adalah karena “Abaa Was Takbara ﺃﺒﻰﻭﺍﺴﺗﻛﺒﺭ” yakni sikap pembangkangnya dan kecongkakannya, tugasnya ia tidak mau pada apa yang sudah “ia ketahui yakni mau-Nya Allah agar ia sujud” (Al-Qur’an surat Al-Baqarah 34, QS. Shad 71 s/d 85, Al-Araf 12 s/d 17 dan Al-Hijir 26 – 42).
Begitu juga dengan kekufuran Arab Jahiliyah dahulu yang juga bukan karena mereka tidak percaya kepada adanya wujud itu, dimana kepada Allah itu mereka semuanya sudah percaya seperti dijelaskan  

surat Az-zukhruf 87 :
  
Artinya : “Kalau engkau Muhammad tanyakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan mereka ?. Jawabannya pasti “Allah”, akan tetapi mengapa mereka lantas membangkang”.
Kekafiran mereka dikarenakan tidak mau terhadap apa yang diturunkan Allah kepada Rosul-Nya (Al-Qur’an dan Sunnah Rosul), tetapi sebaliknya “mau”-nya menurut yang lain, yaitu mau mempertahankan pandangan-pandangan tradisional sebagai warisan nenek moyang mereka Q.S. 

Al-Maidah 104 :
 
Artinya : “Apabila mereka diajak mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya (Al-Qur’an dan Sunnah). Mereka menjawab : cukuplah bagi kami apa yang telah kami dapatkan dari hasil peninggalan nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu sendiri tak tahu apa-apa”. 
Al-Qur’an surat Al-Lukman 21 :  

Artinya : “apabila mereka diajak untuk mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya (Al-Qur’an dan Sunnah, mereka menjawab “ kami hanya atau mengikuti apa yang mereka kelembah derita nestapa”.telah nenek moyang kami wariskan kepada kami walaupun mereka itu adalah syetan-syetan penyeleweng yang akan menyesatkan

0 comments: