RSS

Rabu

Bagaimana Muslim Beretika Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Bagaimana seorang Muslim mengatur hidupnya didunia ini dalam kenyataan se-hari2nya”, ya’ni manusia yang telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada tuntunan ajaran Allah AlQuran menurut Sunnah RasulNya.
Praktis hidup se-hari dilandaskan kepada AlQuran dan Sunnah Rasul, akan mungkin terwujud dan menjelma dialam nyata bila ia telah memahami sepenuhnya “apa itu Islam dan bagaimana polanya” ?. untuk itu kepada siding pembaca terlebih dahulu dimintakan untuk menela’ah dan mempelajari se-baik2nya Skets kasar “Pola Kehidupan Mukmin”. Sehingga nantinya apapun yang kita lakukan, keindahan dan kemanfa’atannya terasa


1“Mengapa mereka tidak melakukan intropeksi dan bercermin kepada kenyataan, bahwa sesungguhnya semesta ala mini tidak lain kecuali realisasi Ilmu Allah sesuai dengan rancangan pastinya”.


2. Al-Quran s. Faathir 1 :


“Seyogyanya pemusatan kekaguman itu pada proses realisasi Ilmu Allah yg think managementnya dilimpahkan kepada Malaikat”.


3. Al-Quran s. As-Sajadah 7:


“Dia-lah (Allah) yang telah menantun tata-irama proses seluruh ciptaan-Nya dalam satu harmonisasi yang indah, kemudian diciptakannya manusia dari unsure-unsur bumi”.


Dan banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang memberikan isyarat kepada setiap pembacanya agar supaya “membaca” alam semesta, dan membaca dirinya untuk dijadikan contoh yang nyata bagi memantapkan dan menggamblangkan pengertian pembacanya mengenai konsepsi kehidupan yang tertuju kepada kesejahteraan abadi dan fithri.


Sungguh banyak ayat-ayat alQuran yang menjelaskan tentang manusia, tujuan penciptaanya, bahan dasarnya, asa usulnya dan lain sebagainya , yang semua itu mengandung petunjuk untuk menemukan jalan yang perlu kita kaji terlebih dahulu hal2 tersebut dibawah ini :


1. Apa dan siapakah manusia itu ?
2. Kedudukan Manusia sebagai bahagian dari alam semesta.
3. Fungsi Manusia sebagai “Khilafah Fil Ardi” disamping kedudukan manusia sebagai bahagian dari bumi.


 APA DAN SIAPAKAH MANUSIA ITU?


 Al-Quran surat An-Nur 45 menjelaskan  
“Allah telah menciptakan setiap yang melata dipermukaan bumi ini dari unsure “maa-u”. sebahagian lagi ada yang berjalan dengan daya perutnya, sebahagian lagi ada yang berjalan dengan kedua kakinya dan sebagian lagi ada yang berjalan dengan empat kaki……….…”
Setelah kita baca ayat AlQuran tadi, maka kita bertanya kepada diri kita sendiri : Apa dan Siapakah Manusia itu?, termasuk bagian manakah dari klasifikasi ayat tadi ?. kita ungkapkan kata tanya, justru karena persoalan yang dikemukakan aya AlQuran tadi mendudukan kita selaku manusia dalam satu kelas dengan binatang-binatang lainnya berkaki dua, seperti ayam, itik, angsa dll. Padahal siapapun pasti tidak mau untuk dirinya untuk dirinya disatukan kedalam tersebut dan akan tersinggunglah dia seorang manusiabila dibilang “kamu ayam, kamu itik, monyet dan lain sebagainya”. Alasannya “Aku telah disebut anak manusia. Juga apapun yang dimasukan kedalam perut, pemberi dan pembagi rizqinya adalah sama, yaitu semua menurut aturan Allah,

 seperti firman-Nya dalam AlQuran surat Hud 6 :
“setiap yan melata (dabbah) dipermukaan bumi ini, Allah-lah yang mengatur dan memberi rizqinya”.


Dari manapun manusia memandang dan memberikan argumentasi, ia bakal dihadapkan kepada satu kenyataan bahwa secara organis biologis kelas manusia dan binatang lainnya, bahan dasar penciptannya tidaklah berbeda. Karena itu betapa memalukannya bila ada seorang manusia menepuk dada sombongkan diri dihadapkan sesamanya, padahal tanpa dia sadari, ia telah hanyalah salah satu binatang melata hasil ciptaan Allah. Ada kalanya juga manusia itu mengatakan ; bahwa ia berbeda dengan binatang melata lainnya karena indera yang ada pada dirinya yang selalu tumbuh secara teratur yang menghantarkan manusia kepada kemampuan untuk pandai dan berfikiran maju.


Diajukan firman Allah surat Mulk ayat 23 :




“Nyatakanlah olehmu Muhammad, Dialah (Allah) yang telah menumbuhkanmu dan telah memberikan telinga (untuk mendengar), mata (untuk melihat) dan fuad (untuk pengolah, penanggap persoalan), akan tetapi sayangnya sedikit sekali manusia yang mau menyadarinya”.


Sesungguhnya adanya perbedaan pada binatang melata (termasuk manusia) dalam hal kecerdasan dan indera hanyalah terletak pada kadar atau ukuran saja, sebab “dabbah” lainnya pun mempunyai kecerdasan dan ada fikiran. Sudah tentu dalam hal ini tanpa diragukan lagi manusia mempunyai kelebihan dari binatang2 melata lainnya yang menjadikan dirinya mampu untuk terus berfikiran maju, meningkatkan diri dalam intelegensinya. Ia dengan akal fikirannya mampu untuk menguasai alam semesta danmengolahnya untuk kepentingan hidupnya dan untuk membna peradabannya.


Karena itu, dapatlah kita fahami apabila Allah memberikan ni’mat itu kepada manusia, ya’ni ni’mat pendengaran, alat penglihatan dan alat penanggap, dimana kesemunya itu harus disyukuri dengan digunakan pada tempat menurut kepastian pemberinya, sebab dengan jalan itulah terangkat dirinya dari derajat dan kelas binatang melata lainnya. Lihatlah binatang melata lainnya selain manusia selain manusia. Mereka dalam memenuhi kebutuhan makannya tidak pernah mengenal hak milik pribadinya atau hak milik orang lain, ia tidak tahu batas2 halal dan haram, bahkan mereka melakukan pembunuhan demi tercapainya maksud dan tujuan. Pada segerombolan kambing, dalam pemenuhan nafsu sexueel, mereka tidak mengenal apa yang disebut suami isteri, adak dan ayah, saudara laki2 dan saudara perempuan2 dsb. Pokoknya melampiaskan nafsu sexueel kepada siapa saja.


Para ahli phisika manusia (kedokteran0 memberikan penjelasan, bahwa salah satu penyebab kemajuan manusia adalah adanya bentuk tersendiri dan hanya dimiliki oleh manusia, ya’ni ujudnya dan kemampuannya untuk berdiri dan berjalan dengan kedua kakinya secara vertikal.


Aquran surat At-Tin menegaskan :


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk seindah2nya”


Tambahan pula indera yang ada manusia senantiasa tumbuh mengikuti pertumbuhan dirinya secara teratur dan berangsur-angsur sehingga tumbuhlah cara berfikir yang sesuai dengan pertumbuhan jasmaninya.
Adapun binatang2 melata lainnya, semenjak dilahirkan, ia membawa insting yang hamper tak pernah bertambah dan digerakan oleh itu. Sedangkan manusia semenjak dilahirkan, ia tak membawa ilmu apapun, geraknya, adalah gerak motoris, akan tetapi dengan semakin tumbuh indera dan phisiknya, tumbuh pula akal fikirannya sehingga melahirkan keinginan dan pikiran2 tertentu.


AlQuran s. An-nahlu 78 menjelaskan :




“Allah telah mengeluarkanmu dari rahim ibumu dalam keadaan tak tahu apapun, kemudian Allah memberimu alat pendengaran (telinga), alat untuk melihat (mata) dan alat penaggap (fuad) agar supaya kamu sekalian menyadari dan mensyukurinya”
Bahkan dengan adanya indera2 tersebut pada diri manusia, ia mampu untuk mengetahui keadaan sekelilingnya atau melahirkan perasaan2 dikandung hatinya.


AlQuran s. An-Nahlu 4 menegaskan :




“Allah telah menciptakan manusia dari mutfah (panduan sperma dan ovum) akan tetapi kemudian manusia itu menjadi pembangkang utama”.
Disebutkan Allah sebagai pembangkan utama adalah karena ketidak mampuan manusia untuk menggunakan ni’mat pemberian Allah berupa alat pendengaran, penglihatan dan fuad sebagai alat untuk mengolah dan menanggapi, sehingga dalam kehidupannya sudah tidak dijumpai lagi nilai2 haram dan halal, sudah tidak dikenal antara yang muhrim dan yang bukan muhrim dlsb. Maka ketika itulah martabat kemanusiaan meluncur jatuh kemartabat binatang. Sama halnya kalau tujuan hidup seseorang hanya untuk pemenuhan perut dan bawa perutnya, artinya dia sudah mentidak mengenal adanya tujuan hidup yang sebenarnya. Oleh Allah dalam


hal surat Al-A’raf 179 dikwalifisir sama dengan binatang atau lebih linglung lagi :


(mereka bagaikan binatang atau lebih linglung, lebih hina lagi).


Dijelaskan oleh surat At-Tin 5 :


(kemudian kami kembalikan simanusia kepada derajat yan serendah2nya).
Bukankah binatang2 melata itu mendapatkan pedoman hidupnya dengan garizahnya dan digirng dalam berbuat menurut instinct-nya?. Sebab itu bila manusia telah kehilangan kemampuan untuk menggunakan yang disebut tadi, tidaklah ia temasuk bilangan manusia lagi, malahan untuk masuk kedalam kedalam kelas binatang2 itu sediri ia tidak bias, jadila dia mahluk palng linglung dan paling hina.


Q.S. An-Anfal 22 :


“sesungguhnya sejeleknya dabbah menurut ilmu Allah adalah mereka2 yang tidak mau menggunakan kalbunya dan telinganya untuk memahami tuntunan ajaran Allah, yaitu mereka yang tak menggunakan akalnya untuk itu”
Selanjutnya AlQuran surat Al-anfal 25 menjelaskan yang demikian itu dalam kebudayaan hidupnya kedalam kelas kaafirin :

“sesungguhnya binatang melata (dabbah) yang paling jelek dan paling linlung menurut Ilmu Allah, yaitu manusia2 kafir, karena penolakan mereka untuk hidup menurut garis2 kepastian Allah”
itulah mereka yang mengikuti nada dan irama yang dialunkan oleh hawahu dan hubbusy-syahawat, akibatnya timbul joget kebinatangan dengan gerak laku saling berebut untuk menguasai yang paling lemah, larilah mereka kedalam hukum rimba yang penuh dengan kebuasan dan kebiadaban.


ditegaskan Allah dalam surat muhammad 12 :


"Orang2 kafir, mereka berpesta pora dalam hidupnya ini bagaikan binatang2, akhirnya kehidupan nerakalah sebagai tempat mereka".
adanya indera pada diri manusia dan adanya akal merupakan ni'mat yg besar, namun harus dipertanggungjawabkan penggunaannya sebab akan diminta oleh Allah.


AlQuran s.Al-Isra 36 :




"janganlah kamu berbuat diatas dasar kebodohan (tanpa ilmu), sebab telinga, mata dan fuad (yang ada pada dirimu) akan dimintakan pertanggung jawabannya oleh Allah".
itulah ni'mat pemberian Allah yang dibarengi dengan perintah sehingga merupakan suatu amanat yang harus ditunaikan. Terhadap Allah ini janganlah hendaknya manusia menyelewengkannya bila dia menginginkan derajatnya yang fithri, kedamaian abadi dan sebutannya sebagai manusia.


Walaupun bukan merupakan perbedaan pokok dan mendasar, perbedaan antara dia sebagai manusia dan binatang2 melata lainnya secara organis biologis memang ada, ya'ni perbedaan dalam bentuk phisik dan ukuran/kadar saja, namun perbedaan pokok dan mendasar ialah terletak pada norma dan hukum, pada Ilmu yang digariskan kemudian dita'ati. itulah sebabnya oleh Ilmu diatur sistem hidup yang 
sebagai pancaran dan kemauan untuk taat pada ketentuan2 penciptanya 


Antar lain dibentuknya apayang disebut dengan Nikah atau Lembaga Famili dimana diatur diatur soal akad nikah sebagai pangkal tolah pembangunan rumah tangga dengan sandaran kepada tahu dan mau untuk berbuat diatas apa yang telah digariskan pencipta dan pembimbingnya, sehingga dari sana menjadi syarat mutlak tumbuhnya suatu masyarakat manusia beradab yang sesungguhnya, tegaklah keadilan antara sesamanya. harmonislah hidup mereka dengan mereka dan Jennah-lah akhirnya yang terasa.


Demikianlah tugas Ilmu, demikian besar pula peranan ilmu, sehingga disebutkan : 
"Kalau bukan diatas dasar Ilmu (dan didorong dalam berbuat menurut itu), niscaya manusia itu bagaikan binatang dalam kehidupannya".
Ilmu adalah "sesuatu" yang menempatkan diri manusia pada kelasnya yang tersendiri serta mengangkat martabat binatangnya kepada martabat manusia mulia, dari protes Malaikat sampai dengan angkat topinya adalah karena Ilmu yang dimiliki Adam as. Sebagai hasil ajaran Allah kepadanya. Dengan Ilmu yang telah diajarkan Allah, bangkitlah manusia dari lubuk derita kepada kehidupan penuh mulia, berpacu dan berlomba dalam menata kehidupan setepat2nya dan seindah2nya memenuhi tugasnya selaku manusia yang berpangkat "Khalifah" :  dipermukaan bumi ini

0 comments: