RSS

Rabu

KEDUDUKAN MANUSIA SEBAGAI BAGIAN DARI ALAM SEMESTA

Alam semesta sebagai realisasi rancangan pasti Ilmu Allah dalam ujud bangunan keseluruhan maupun bahagian2nya, sampaipun pada satuan2 perinciannya yang paling halus, molekulair, atomis, merupakan satu proses yang berlangsung diatas prinsip mizan (keseimbangan) , ya'ni satu bentuk gerak gerak yang merupakan unit kerja sama erat harmonis, dimana tiap2 bagiannya mengarahkan gerak khususnya tertuju kepada gerak kesempurnaan gerak bersama.


manusia sebagai mahluk Allah diciptakan dari unsure bumi dan kepentingan hidupnya terikat kepada bumi yang tetap berproses dibawah management (pengaturan) Malaikat yang ditugaskan Allah sebagai penanggung jawab proses bumi dan bahagian2nya.
Sebagai Mahluk biologis, tubuh manusia merupakan satu unit yang tersusun atas lembaga tubuh yang berproses dengan "nervous system" (sistem syaraf) sebagai inti pusaran geraknya.


a. FUNSI NERVOUS SYSTEM :
Peran utama dalam proses hidup manusia sebagia satu unit biologis dipegang/dikomando oleh nervous system yang berpusat pada "cerebrum" (otak besar), "cerebellum" (otak kecil) dan "medulla spinalis"(spinal cord, yaitu susunan sumsum tulang belakang), dimana jaringan2anya menyerap keseluruh bagian tubuhnya sampai yang sehalus2nya.
berkas syaraf yang fungsinya mengaktifkan dan mengontrol lembaga2 tubuh yang berstatus otonom, seperti pada lembaga peredaran darah, lembaga pernafasan, lembaga pencernaan dan apa yang berlangsung dibawah control pusat syaraf, seperti susunan otot pada kaki dan tangan, namun kesemuanya tak pernah terputus hubungan dengan pusatnya. disamping berkas2 syaraf penggerak dan pengontrol lembaga lembaga dan anggota tubuh, ada pula jaringan syaraf penyerap keseluruh bagian yaitu syaraf "traffic" sebagai pengontrol tertib "distribusi nutrisi" (pembagian makanan) dan syaraf sensorics yang ya'ni penangkap kesan untuk dikirim kepusat melalui jaringan2 syaraf komunikasi yang merupakan jalan2 ganda "vise verse" (melihat dan menangkap0 yaitu syaraf "afferent" (penyampai perintah dari pusat kebahagian yang bersangkutan) dan syaraf2 inilah yang menjadi penghubung antara pusat dengan alat peng-inderaan (mata, telinga, hidung, lidah, kulit), yang disebut juga panca indera.


Proses inter-relasi (saling mengisi) antara pusat Nervous system dengan panca indera dalam hubungan lingkungan hidup manusia, dinamakan proses kesadaran. Proses inilh yang menyebabkan manusia mempunyai "mental, kemampuan berfikir" dan merasa, menimbang, dan memutuskan dengan petuntjuk ilmu. Proses ini pula yang menyebabkan manusia yang menjelma (penjelmaan) dari kulit bumi menjadi mahluk psycho social yaitu mahluk budaya.


b. MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BUDAYA (PSYCHO SOCIAL)
Setiap benda dialam raya ini, dari partikel yang terhalus sampai benda makro yang tersebar diluar angkasa, terjalin dalam rangkaian irama proses saling sejahtera mensejahterakaan dengan jalan saling pancar memancarkan daya tarik, sehingga sebenarnya seluruh alam semesta ini turut berjasa dalam memelihara keseimbangan tubuh kita diatas kadar pastinya Allah.
Tidak ada satupun mahluk yang tak berfungsi dalam proses semesta ini sesuai dengan posisinya dalam tahapan proses dimana ia berada.


AlQuran surat Ali-'Imran 19
"yaitu mereka (orang mukmin) senantiasa sadar akan ketentuan Allah dalam keadaan bagaimanapun (disa'at berdiri, duduk ataupun sa'at ia tidur), mereka senantiasa menerawang memikirkan penciptaan alam semesta angkasa dan bumi ini sehingga melahirkan satu penciptaan : "wahai pembimbing kam, apa yang telah engkau ciptakan tak satupun yang tidak berfungsi !, maka sesungguhnya kesibukanku ini hanya menurut kepastian-Mu saja, karena itu hindarkan-lah kami dari kehidupan naar".


AlQuran surat Al-Anbiya 16 menjelaskan :
"Tidak Kami (Allah) ciptakan angkasa dan bumi beserta segala isinya tanpa tujuan tertentu".
Semua mahluk biologis mempunyai existensi khusus dalam fungsinya, ialah untuk memelihara kelangsungan sejarah sejenisnya dengan jalan pembiakan (berbuah dan beranak). Demikianlah pula manusia sebagai mahluk biologis tergolong kepada kategori mahluk yang harus melahirkan keturunan sebagai tugas penunaian partisipasinya sesuai tahapan2 perkembangan daripada proses semesta alam.
Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai bahagian dari alam, tubuh manusia itupun berproses berdasarkan prinsip "mizan", dimana inter-aksi lembaga2 tubuhnya itu terarah kepada kesempurnaan efektivitas fungsi tubuh.


Dikarenakan fungsi tubuh itu dan existensinya sebagai unit biologis adalah melahirkan keturunan ,sedangkan aparat utama untuk pemenuhan fungsi tersebut adalah "generative system"(lembaga pembiakan), maka dengan sendirinya dalam proses biologi manusia itu aktivitas lembaga2 lainnya terarah kepada kesempurnaan effektivitas fungsi generative system tersebut. Dengan kata lain, semua lembaga tubuh lainya itu kegiatannya diorbitkan kepada generative system dan dirangkaikan dalam arus kegiatannya bagi penyempurnaan pelaksanaan realisasi fungsinya. Dengan demikian berlangsunglah proses tubuh manusia yang dalam hierarchi konstelasi geraknya sebagai satu unit yang mizan.


3. FUNGSI MANUSIA SEBAGAI KHILAFAH
Sesuai dengan rancangan pasti Allah, manusia dicitakan untuk dijadikan "khilafah fil ardli", ya'ni pelaksana Ilmu-Nya dibumi, yaitu bertugas untuk membina masyarakat guna menjamin kesejahteraan dan perdamaian dalam kehidupan manusia.
Manusia adalah mahluk sosial budaya yang diciptakan dari unsure alam phisika dalam rangka pemeliharaan kelanjutan berlakunya kesejahteraan dan perdamaian yang berlangsung dalam kehidupan alam fisika.
Agar supaya manusia mampu menerima ilmu sebagai “landasan” fungsinya, maka manusia dilengkapi dengan sam’a (daya pendengaran). Basher (daya penglihatan) dan afidah (daya tanggap) yang dipersiapkan maqamnya (korelasi phisiknya) berupa otak dan jaringan2 syaraf yang menghubungkan dengan panca-indra dan bagian2 lainnya yang ada hubungannya dengan perasaan dan pikirannya.


Fungsi manusia sebagai khilafah ini menuntut, agar nervous system harus dan mutlak ditempatkan sebagai “managing fabtor” (faktor pengatur) dalam hierarchi-nya. Sebab gangguan terhadap supremasi nervous system akan menimbulkan rongrongan terhadap kemurnian dan kelancaran fungsi fuad sebagai maqam ilmu.
Ruang afidah inilah sebagai general staf (staf umum), tempat menggodok berbagai masalah prinsipil dan menentukan garis umum bagi penyelesaiannya. Ruang afidah ini pulalah sebagai operation rooms, tempat meneliti dan mengolah data untuk dituangkan ke dalam satu rencana operasi. Tindakan “Nafsul Muthmainnah”adalah manisfestasi niat yang terbimbing wahyu, menyebarkan benih-benih mental yang akan mengubah dunia ini menjadi taman kehidupan dalam mahligai kedamaian manusia. Sebaliknya, tindakan-tindakan diluar wahyu, tegasnya tindakan “hawa nafsu” (subjektivisme manusia) yang didorong dan dimotori geraknya oleh perut (bhutun)nya atau bawah perutnya, melahirkan kehidupan rona derita, dansa dansi diatas gemilang mayat-mayat lapar, sambil berpesta pora dimabuk cinta “zahratul hayatid dunya”, selembar demi selembar melempar robekan “libasut takwa” sebagai kos-teamnya. Yang kemudian setelah telanjang bulat, dia terpelanting ke dalam dunia serigala untuk saling merobek perut, renggut jantung dan hisap darah antara sesamanya sambil kejar mengejar dalam dunia perlombaan menuju jurang kebinasaan total.


Setelah tadi kita dibawa melewatkan pandangan ke dalam liku-liku lubuk kita sendiri dengan mengikuti arah yang telah ditunjukan alQur’an sebagai muthawwif (guide), dimana tadi kita dipertemukan dengan “apa, siapa, dan betapa kita ini” yang dengan itu semua kita telah bisa mengambil satu kesimpulan bahwa tidaklah akan mungkin menusia mendapatkan satu kesejahtraan hidup lahir dan batin dengan hasil kebudayaannya itu diatas landasan akalnya semata-mata, tegasnya tanpa bimbingan wahyu dari Allah, sebab sesungguhnya apa yang dihasilkan akal manusia-tok (ijtihad) hanyalah merupakan hasil relative (nisbi), tidak mutlak benar, tidak seluruh persoalan bisa diatasinya. Cobalah tengok sejarah filsafat perkembangan alam pikiran, lahirnya ismo-ismo dan perkembangan teknologi modern menjadi bukti nyata bagi kita.
Filosuf-filosuf greek yang pertama, dengan akal pikirannya telah berspekulasi memikirkan hierarki kejadian alam semesta, Menurut “Thales” ( 625-546 SM ), bahwa semua itu adalah “air”. Air yang cair itu adalah pangkal pokok dan dasar segala-segalanya. Semua itu terjadi daripada air dan semuanya akan kembali keair pula.


“Anaximandros” (610 – 547 SM) murid Thales berbeda dengan gurunya. Dia mengatakan, bahwa yang asal itu yang menjadi dasar alam ini ialah “Apeiron” dimana apeiron ini tidak dapat dirupakan, tidak ada persamaannya dengan salah satu barang yang kelihatan didunia ini.
“Anaximenes” (585 – 528 SM) murid anaximandros berpendapat, mengatakan bahwa anasir yang jadi pokok daripada alam ini ialah “api”. Api itu lebih daripada air dan setiap orang dapat melihat sifatnya sebagai mudah bergerak dan mudah bertukar rupa. Sifat dinamis inilah yang dimiliki oleh alam, dalam dunia ini tidak ada yang tetap, semuanya mengalir dan bergerak, panta rei.
Berlawanan dengan “Parmanindes” (540 SM), dia berpendirian bahwa ala mini tetap, segala yang bergerak dan nampak oleh kita adalah tipuan panca indra belaka. Parmanindes adalah pendekar daripada yang tetap tidak berubah-rubah.


Akhirnya “Empedokles” (490 – 430 SM) datang laksana mengumpulkan spekulasi-spekulasi yang lalu dan merumuskan spekulasi baru, bahwa alam itu tersusun daripada anasir-anasir yang asal jumlahnya empat : “Udara, api, air, dan tanah”. Keempat itu masing-masing memangku sifat yang empat pula : “dingin, panas, basah, dan kering”. Ajaran tentang anasir yang empat itu besar pengaruhnya kemudian dalam Ilmu Alam sampai abad tujuh belas.
Begitulah hasil manusia berkelana di alam filsafat mencoba memecahkan arti alam semesta dan hakikat kehidupan ini. Penggambaran yang terjadi sejak jaman purba sampai sekarang, namun kesimpulan yang bakal dihasilkan oleh akal pikiran manusia (ijtihad), pasti tetap menumbuhkan ikhtilaf dalam memahami kebenaran.
Betapa kemampuan akal dapat juga kita lihat dari hasil-hasil penemuan. Kemarin didapat, tapi hari ini dibantah, hari ini dirumuskan, tapi besoknya dibatalkan orang lagi, dan begitu seterusnya.
Sekarang kita melihat pertarungan dahsyat dari berbagai filsafat hidup “sekuler”, juga disebut isme-isme seperti sosialisme, kapitalisme, komunisme, dan lain-lain. Isme-isme tersebut yang sekarang ini berusaha membentuk dunia saling berjuang satu sama lain merebut pikiran umat manusia.


Dr. William Ebenstein menerangkan bagaimana isme-isme besar sekarang ini bertarung. Dalam bukunya “today’s isme”, dalam kata pendahuluannya dia berkata : The mayor conflict of our age is the struggle between aggressive totalitarianism and the free way of life, communism and fascism on the totalitarian side, capitalism and socialism on the democratic, artinya : “sengketa besar daripada abad kita ini adalah perjuangan diantara system totaliter dan cara hidup yang bebas – komunisme dan fasisme di pihak totaliter, kapitalisme dan sosialisme di pihak demokrasi.


Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa apa yang mereka hasilkan dari pendewaan terhadap akal pikiran manusia itu hanya berakibat kepada kehancuran yang melanda kehidupan manusia, hancurnya nilai prikemanusian dan lain sebagainya, baik didaratan atau dilautan dengan usaha-usaha kotor mereka (lihat ajaran alQur’an s. Ar-Rum 41)




Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Qs. Ar-Rum : 41)


Karena itu, dengan telah mampunya kita memberikan jawaban terhadap apa, siapa dan betapa kita ini, berarti kita telah menemukan kos team kita yang tersendiri, telah menemukan kita sendiri yaitu “libasut-takwa” dan itulah yang disebut Allah dalam alQur’an sebagai “Dienul Islam”.

0 comments: