RSS

Sabtu

MAnusia di kata sebgai Mahluk sosial budaya

Di terangkan dalam kitab suci 




Qur’an Al surat Al-Mulk 3-4 :                       
  
Artinya : Dia-lah (Allah) yang telah tujuh tahapan samawat dimana kamu sekalian tidak akan mungkin melihat ketidak beresan dari ciptaan Allah ini. Coba lagi perhatikan dan selidiki., apakah kamu pernah menyaksikan pergaulan alam semesta ini saling tabrakan?, hayo terus adakan lagi penyelidikan, walau bagaimanapun apa yang kamu pandang ini bakal memberikan kesan  bahwa selamanya alam semesta ini berada dalam keadaan patuh, rapih sehingga bakal menggugah hati”.

Al-Qur’an surat Al-Hajj 18 :
 
Artinya : “Apakah kamu sekalian tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya apa yang ada di samawat (benda-benda angkasa) dan apa yang ada di bumi, baik ia berupa matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon dan semua bentuk binatang melata (baik yang berjalan dengan tenaga perutnya, dengan dua kakinya atau dengan empat kakinya”. Semua itu telah sujud, tunduk kepada kepastian Allah. Sedangkan kehidupan manusia sebagiannya hidup menurut ilmunya Allah yang telah diajarkan lewat para rosul-Nya dan yang sebagian lagi hidup menurut hawahunya (subjektivitismenya) sehingga konsekuensi yang harus mereka hadapi adalah adzab dan bencana dan barang siapa yang berbuat hidup model demikian, dan tidak akan pernah mencapai kebahagian dan kemulyaan, demikianlah kepastian ajaran Allah terhadap segala perbuatan manusia”.

Adanya kestabilan, keharmonisan dan mizannya benda-benda fisika hasil dari ketaatan, sujud, thai’in mereka akan garis pasti penciptanya. Demikian pula halnya manusia. Hendaknya dia dalam kebudayaannya menyatakan satu sikap “ﺍﺸﻬﺩﺃﻦﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲ” dalam kenyataan hidup yaitu tidak menjadikan apa dan siapapun dengan berbagai pandangan dasar hidupnya sebagai sumber gerak kehidupan sosial kecuali Allah menurut Ilmunya saja yakni Al-Qur’an dengan sunah Rosul sebagai contoh pelaksanaannya.
Bila gerak alam, termasuk tubuh manusia itu sendiri telah sujud mentaati kepastian Ilmu Allah, hendaknya iapun sebagai makhluk sosial menyatakan sujud patuh kepada ketentuan 

Al-Qur’an  dan Sunah Rosul. Al-
 surat  Al-Hajj 77 menjelaskan :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman!, tunduk dan patuhlah dan abdikanlah dirimu menurut garis ketentuan Allah pembimbingmu, yakni berbuat sebaik mungkin menurut Iilmu-nya, niscaya kamu sekalian mencapai kemenangan hidup”.
Selanjutnya ditegaskan dalam surat Ar-Rahman 8-9, bahwa untuk mencapai kebahagian hidup, tidak saling jegal, robek perut atau saling hisap darah antara sesamanya, maka yang ditempuh ialah          

Artinya : “Tegaklah olehmu keseimbangan lingkungan hidupmu (fisika – budaya) dengan setepat-tepatnya dan janganlah sekali-sekali kamu timpangkan sistem keseimbangan itu”.
Sesuai dengan fungsi manusia sebagai khalifah dalam membudayakan kehidupan alamiyah diatas hokum mizan sehingga lahirnya “ﺤﺒﻞﻤﻦﺍﷲﻭﺤﺒﻞﻤﻦﺍﻟﻧﺎﺲ” yaitu hubungan secara horizontal dengan sesame manusia diatas dasar ikatan secara vertical terhadap Allah. Adanya kesesangraan, kelaparan dan kehinaan yang diderita oleh manusia-manusia umumnya dan umat Islam khususnya. Diseababkan memutuskan dirinya dari tali pengikat yang diberikan 

Allah. Q.S. Ali-Imran 112 :

Artinya : “Pasti kepada mereka ditimpakan bencana kehidupan yang hina dina dimanapun mereka berada, kecuali diatur dengan satu sistem kekuatan kepada Allah dalam perikatan antara sesama manusia. Hal itu disebabkan karena mereka sendiri menolak ajaran Allah dan membunuh Rosul (Sunah Rosul) tanpa landasan kebenaran. Yang demikian itu adalah akibat pembangkangan mereka semena-mena”.
Rangkaian ayat-ayat al-Qur’an tadi untuk ditelaah oleh sidang pembaca dan ditafakuri dengan harapan menjadi jembatan penghantar buat seluruh manusia dan khususnya kita umat Islam untuk supaya mau hidup damai (Islam) seperti halnya pergaulan alam yang sudah Islam secara organis biologis. Kehidupan yang damai yang digambarkan oleh Islam melalui al-Qur’an hanyalah dengan berpegang teguh kepada ilmunya (Al-Qur’an dan Sunah Rosul). 
Al-Qur’an surat Ali-Imran 103 ditegaskan :

Artinya : “Berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali perikatan yang telah diajarkan Allah (ikatan hidup antara sesama manusia menurut al-Qur’an dan Sunah Rosul) dan janganlah kamu sekalian hidup pecah belah. Sadari dan ingatlah akan nikmat Allah ini yang telah memberikan kebahagian buatmu disaat kamu sekalian terjerumus kedalam saling bermusuhan, kemudian Allah dengan al-Qur’an ini menjalin tanggapan kalian menjadi saling kasih mengasihi yakni dengan hidup bagaikan saudara, padahal disaat itu (sebelum menerima ajaran Allah) kamu sekalian berada pada jurang kehancuran, kemudian Allah menyelematkanmu dengan ajaran-Nya dari itu. Demikianlah Allah menjelaskan pembuktian Ilmu-Nya kepadamu sekalian dengan harapan kalian mendapat petunjuk kearah satu kehidupan damai”.

Al-Qur’an surat Ali-Imran 64 :

Artinya : “Nyatakan olehmu Muhammad!, wahai para ahli kitab (orang-orang yang mengaku ahli Ilmu atau wahyu yang telah diajarkan Allah) marilah kita menyusun satu sistem hidup diatas azas persamaan hidup diantara sesama manusia (Dinul Islam) yakni janganlah melakukan pengabdian diri dalam hidup ini kecuali menurut yang ditentukan Allah dengan sama sekali tidak bersikap dualisme (musyrik) dalam hidup ini, yaitu janganlah kita menyusun kehidupan sosial pyramidal (berhala isme) diantara sesame manusia selain datangnya dari Allah. Maka apabila mereka menentang, menyatakan sikapmu : dengan aku menyatakan diri bahwa aku ini adalah orang yang telah memilih Islam sebagai tata kehidupan”.
Yang praktisnya oleh Nabi Muhammad digambarkan “KALJASADI, KALBUNYANI” yakni “Dalam suka dukanya ditanggung bersama ataupun saling kokoh mengkokohkan”. Sabda Nabi Muhammad saw :

ﻣﺷﻞﺍﻠﻤﺅﻤﻨﻳﻦﻔﻰ ﺗﺭﺍﺤﻤﻬﻢ ﻭﺘﻭﺍﺪﻫﻢ ﻭﺗﻌﺎﻃﻔﻬﻢ ﻜﻣﺷﻞﺍﻟﺠﺳﺪ ׃ ﺍﺬﺍﺍﺷﺘﻛﻰﻋﻀﻭﺘﺪﺍﻋﻲﻟﻪ ﺴﺎﺋﺮﺍﻟﺠﺳﺪﺑﺎﻟﺴﻬﺭ
ﻭﺍﻟﺣﻣﻰ   
“(lihatlah) betapa kehidupan masyarakat mukmin dalam keharmonisan, kemesraan dan kasih sayang, tak ubahnya bagaikan satu tubuh, cedera yang dirasakan sebagian, serempak dirasakan  oleh seluruh tubuh menggigil panas dingin” HR. Bukhori dan Muslim
ﺍﻤﺅﻤﻦﻟﻟﻤﺅﻤﻦﻜﺎﻟﺒﺳﻧﺎﻦ׃ﻳﺷﺴﺪﺑﻌﻀﻪ﴿ﺍﻠﺑﺧﺎﺮﻯ
“Seorang mukmin terhadap sesamanya bagaikan satu bangunan, dimana diantara satu bagian dengan bagian yang lainnya saling kuat menguatkan”.

SISTEMATIKA DINUL ISLAM

Yang dimaksud dengan sistematika disini artinya : tertib pembahasan, tertib pemecahan. Sistematika Dinul Islam berarti : Tertib Pembahasannya atau pemecahan Dinul Islam sebagai satu kebulatan prinsip.
Dinul Islam adalah syari’at yang diajarkan Allah untuk kedamaian hidup dan kehidupan manusia didunia dan diakhirat kelak, merupakan satu syari’at yang objektif ilmiah tegasnya dalam cara pembahasannya pun memenuhi standar keilmuan. 

Hal ini pun langsung diajarkan oleh syari’at itu sendiri bagaimana cara yang harus ditempuh oleh kita sehingga Dinul Islam yang kita pelajari ini sesuai dengan kehendak dan mau-Nya. Yang mengajarkan dan lebih dari itu tidak terjadi. Pengkotakan dan pemahaman seperti yang selama ini kita kenal. Akan tetapi benar-benar merupakan satu kebulatan prinsip yang mampu mewujudkan dirinya dalam satu kebenaran mutlak dan mampu mengungguli sistem-sistem hidup diluar Dinul Islam.
Dinul Islam sebagai satu kebulatan, didalamnya mengandung unsur-unsur Iman, Islam, Ihsan, yang ketiganya 
satu sama lain saling berjalin tak terpisahkan ataupun saling mengisi antara satu dengan lainnya. Melihat dari pembahasan bagian demi bagian, maka masing-masingnya  mempunyai aksentuasi-aksentuasi (penekanan-penekanan) tertentu, sehingga dengan melihat penekanan-penekanan ini, terlihat peranan masing yang saling menopang satu sama lain didalam ikatan kesatuan Dinul Islam itu sendiri sebagai satu bulatan prinsip.

Adanya penggunaan Sistematika Dinul Islam dengan Iman, Islam, dan Ihsan, didasarkan kepada ajaran itu sendiri, yakni diambil test yang diajukan malaikat Jibril mengenai “Ma’alima Dinikum” (ﻤﻌﺎﻠﻴﻢﺪﻴﻨﻜﻡ)  kepada Nabi serta dinilai oleh Malaikat Jibril dengan : ﺼﺩﻗﺘ ﻳﺎﻤﺤﻣﺩ dari titik tolak ini, maka kita dapat mengungkapkan beberapa rumusan dari ketiga masalah itu dengan diperkuat oleh keterangan-keterangan lainnya yang berhubungan dengan itu, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits lainnya.
Dilihat dari pola memandang “Nur” yakni al-Qur’an, maka :
a.       Ilmu sebagai dasar yaitu pembentuk pandangan yang sekaligus menggambarkan tujuan yang harus dicapai.
b.      Islam sebagai sarana pengaruh atau teknik yang menjembatani antara dasar dan tujuan.
c.       Ihsan sebagai tujuan hidup yang hanya dapat dicapai melalui sarana pengarah dan dengan teknik Islam.

0 comments: