RSS

Senin

Syahadat,Islam dan macam-macam sholat serta tata cara berwudhu

Sering kita mengenal istilah kata Syahadat dalam ajaran agama islam,syahadat dengan islam kaitanya erat atau wajib ada pun yang di maksud dengan syahadat dalam ajaran islam sebagai berikut :


A.    ISLAM

Kata Islam diajarkan didalam rangkaian sistematika Iman, Islam dan Ihsan adalah Shigah Masdar dari “Aslama – Yuslimu” artinya “tunduk”, taat menyerahkan diri”. Jadi Islam disini berarti sikap penyerahan diri dengan jalan melakukan pembinaan dan pengembangan maunya atas dasar taunya terhadap Ilmu Allah, yaitu melakukan pembinaan Islam (ﺒﻨﻰﺍﻻﺳﻼﻡ) atau disebut juga  Rukun Islam (kerangka dasar pokok pembinaan Islam), sebagai satu tehnik yang jembatani antara kemantapan “tau dan maunya” terhadap Ilmu Allah yang menghunjam didalam kalbunya disertai totalitas praktikumnya.

Kedudukan Islam disini adalah tehnik yakni tehnik untuk membina diri yang terdiri dari Ilmu factor sebagai berikut :



a.       SYAHADAT

Ialah pernyataan diri seorang yang merupakan ikatan janji terhadap Allah untuk tidak berpandangan dan bersikap menurut yang lain kecuali menurut Ilmu-nya Allah (Al-Qur’an dan Sunnah Rosul). Pertanyaan ini disandarkan kepada satu rumusan kalimah syahadat yang berbunyi :                                 
  dengan ini pengertian “Saya menyatakan diri bahwa tidak ada sumber gerak lain kecuali Allah dan saya menyatakan sikap bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah”.

Lebih essensial lagi berarti : saya menyatakan diri bahwa tidak ada sumber gerak lain bagi kehidupan saya ini kecuali Ilmu Allah saja (Al-Qur’an) dan saya menyatakan diri bahwa contoh dan taudalan utama (uswah hasanah) didalam penuangan Ilmu Allah itu adalah kehidupan Muhammad Rosullah (Sunnah Rosul)”.


Syahadat adalah pernayataan diri yang dinyatakan secara lisan yang baru akan bernilai syahadat kalau pernyataan itu merupakan pancar dari tanggapan kalbunya didominisir oleh kebulatan “tau” terhadap nilai-nilai kehidupan menurut Ilmu Allah dan meronta kearah MAU menyusun kehidupan menurut itu, sehingga ledakan dalam bentuk pernyataan lisan hanyalah merupakan tendangan saja dari kondisi tanggapannya itu, dimana tahap berikutnya sebagai pengulangan-pengulangan kembali dari syahadat itu, terutama sekali dinyatakan dalam rangkaian praktik pembinaan shalat.


b.      SHALAT

1.      Shalat adalah salah satu tehnik pembinaan diri untuk membangkitkan kesadaran terhadap tuntunan Ilmu Allah. Al-Qur’an surat Thaha

Artinya : “Sesungguhnya aku inilah Allah yang telah mengajarkan Ilmu (Al-Qur’an) dan tidak ada lagi sumber gerak kecuali aku (Allah), karena itu beribadatlah (berbudaya) menurut garis yang telah aku tentukan, yakni dengan membina dirimu dengan menegakan shalat untuk supaya kamu senantiasa sadar akan ketentuan Ilmu-Ku”.


Membina diri dengan “senantiasa menegakan shalat” pada waktu bagaimanapun, maka pastilah dirinya akan terhindar dari berbuat keji atau menyeleweng dari udang-undang Allah.


Al-Qur’an surat Al-Ankabut 45

 Artinya : “Kajilah apa yang telah kami (Allah) wahyukan kepada Engkau Muhammad yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) ini dan binalah dirimu dengan shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah untuk mencegah diri dari berbuat keji (fahsya) dan munkar (penyelewangan) dan itulah kesadaran menurut Ilmu-Nya sebagai hasil shalat yaitu membina kehidupan yang tak ternilai harganya”.

Hadits-Hadits Nabi :

ﺍﻟﺻﻼﺓﻋﻣﺎﺩﺍﻟﺩﻴﻥﻓﻣﻦﺍﻘﺎﻣﻬﺎﻔﻘﺩﺃﻘﺎﻢﺍﻠﺩﻳﻥﻮﻣﻥﺗﺭﻜﻬﺎﻔﻘﺩﻫﺩﻢﺍﻠﺩﻴﻥ


“Shalat adalah tiang tonggaknya Dinul Islam (kebudayaan Islam) maka barang siapa menjadikan shalat, berarti dia telah mendirikan kebudayaan (tatacara hidup dan kehidupan) Islam, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia menghancurkan kebudayaan Islam”.


ﻤﻥﻟﻡﺗﻧﻬﻪﺻﻼﺓﻋﻥﺍﻟﻓﺣﺷﺎﺀﻮﺍﻠﻤﻨﻜﺭﻔﻼﺻﻼﺓﻠﻪ


“Barang siapa yang shalatnya tak mampu untuk mencegah dirinya dari perbuatan fahsya dan munkar, maka akan semakin jauhlah dia dari petunjuk Ilmu Allah”.


ﻤﻦﻠﻢﺘﻨﻬﻪﺻﻼﺗﻪﻋﻥﺍﻟﻔﺤﺷﺎﺀﻭﻟﻣﻨﻜﺭﻠﻡﻴﺭﺩﺩﻤﻥﺍﷲﺍﻻﺑﻌﺩﺍ


“Bilamana shalat seseorang tak mampu untuk mencegah dirinya dari perbuatan fahsya dan munkar, maka akan semakin jauhlah dia dari petunjuk Ilmu Allah”.

2.      Shalat yang tatacaranya itu harus mencontoh kepada cara-cara yang dilakukan Nabi Muhammad itu pada garis besarnya terbagi kepada :


a.       SHALAT MAKTUBAH : Yaitu shalat ketetapan pokok yang lima waktu. Lihatlah Al-Qur’an surat Al-Isra 78 :   

Artinya : Binalah dirimu dengan shalat sejak tergelincirnya Matahari sampai kepada gelapnya malam dan dirikanlah pula Qur’an fajar, kerena itu merupakan kesaksian dari adanya kemauan untuk berbuat menurut Ilmu-Nya”.


Termasuk juga kedalam shalat Maktubah  ini shalat Jum’ah. Shalat Maktubah yang lima waktu adalah merupakan yang harus didirikan secara berjamaah didalam Masjid, sebab hal itu adalah dalam rangka pembinaan disiplin terhadap korp mukmin agar senantiasa kehidupannya diluar mesjid pun dalam ketaatannya sama, dimasjid baik, diluarpun demikian. Di masjid ia tunduk dan patuh akan gerak yang dikomando Iman, demikian pula halnya diluar mesjid, yaitu kehidupan bermasyarakat, ia harus taat kepada peraturan-peraturan yang telah diletakan Allah melalui seorang pemimpinnya.


b.      SHALAT NAFILAH

Yaitu shalat tambahan atau pemantap untuk menyempurnakan kemantapan mau-nya terhadap Ilmu Allah, diantaranya yang terpenting adalah Shalatul-lail.

Al-Qur’an surat Az-Muzammil 2 :                                  “Gunakanlah waktu malam itu untuk membina dirimu dengan shalat, kecuali sedikit daripadanya untuk tidur……………”.

Shalat ini dilakukan disaat orang-orang lain tidur nyenyak, atau disebut juga shalat tahajud. 
Q.S. Al-Isra 79 :



Artinya : “Dan gunakanlah waktu malam itu sebagiannya untuk bertahajud sebagai pelengkap untuk kemantapan terhadap Ilmu Allah”.


Dilaksanakannya shalat ini pada keheningan malam adalah untuk memberikan kesan mendalam pada kalbunya untuk mendapatkan jalan yang paling tepat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dengan NUR Allah sebagai pedomannya.

Diatas pengkajian khusus Al-Qur’an dalam pembinaan shalat, terpadu harapan kepada Allah untuk mendapatkan hasil rangkap, yakni :


Pertama tersingkirnya sikap kejiwaan yang negative sebagai sisa endapan jahiliyah yang masih saja menempati lubuk kalbunya, yakni yang disebut dengan “istigfar”.



Kedua, diatas kerinduannya kepada keindahan hidup menurut Al-Qur’an dan Sunnah Rosul yang strukturnya adalah KALJASADI diharapkan mencapai “Mi’raj”, yaitu peningkatan diri dengan mencapai Dzikru, yaitu kesadaran Ilmu menghadap problem-problem hidup, karena mukmin bias melihat kenyataan hidup ini dengan terangnya NUR Allah yakni Al-Qur’an menurut Sunnah Rosul-Nya, karena Al-Qur’an sudah bermahkota didalam kalbunya.


Target-terget yang dicapai dengan shalat ini ialah agar begitu selesai dari melakukan shalat, dapat terkesan dalam kalbu si Mushallin gelora kesadaran untuk berbuat menurut Ilmu Allah, atau dengan kata lain memancarkan jiwa shalat itu kedalam segenap aspek-aspek hidup dan kehidupannya, yaitu :


1.      Secar positif membawa diri kearah berlakunya perbuatan menurut bimbingan Ilmu Allah didalam total hidupnya, baik dalam hubungan dengan alam lingkungannya, maupun dalam hubungan ikatan pergaulan antara sesama manusia, baik pada tingkat keluarga, maupun pada tingkat masyarakat luas.


2.      Secara negatif mencegah diri dari berbuat kekejian hidup dan berbagai penyelewengan.

Demikianlah pengertian umum shalat yang disebut Nabi sebagai satu alat pembinaan untuk men-up grade mukmin : ﺍﻠﺻﻼﺓﻣﻌﺭﺍﺝﺍﻟﻤﺅﻤﻧﻳﻦ. Adapun pengertian khusus atau dalam bentuk formilnya adalah shalat yang dilakukan Muslim berdasarkan waktu yang ditentukan (ﻜﺘﺒﺎﻤﻮﻘﻮﺘﺎ) dan keadaan, yaitu kita kenal    dengan :


a.       SHALAT MAKTUBAH : Terbagi kedalam lima waktu shalat dalam seharian semalam, yaitu :

1.      Shalat Dzuhur               4 Rakaat

2.      Shalat ‘Ashar                 4 Rakaat

3.      Shalat Magrib                3 Rakaat

4.      Shalat ‘Isya                   4 Rakaat

5.      Shalat Subuh                 2 Rakaat


b.      SHALAT TATHAWWU : Yaitu shalat yang dilakukannya ada yang belum shalat maktubah, seperti :

1.      Dua atau empat rakaat sebelum shalat Dzuhur

2.      Dua atau empat rakaat sebelum shalat Ashar

3.      Dua rakaat  sebelum shalat ‘Isya

4.      Dua rakaat  sebelum shalat Shubuh


Dan ada yang dilakukan sesudah shalat Maktubah, seperti :

1.      Dua rakaat setelah Dzuhur

2.      Dua rakaat setelah Magrib

3.      Dua rakaat setelah ‘Isya

Termasuk pula kedalam bagian ini Shaltu-lail dengan witirnya dan ataupun shalat Tahajud.


c.       SHALATUL ‘IEDAEN : yaitu shalat Iedul Fithri dan Iedul Adha yang dilaksanakan dilapangan kota pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzul Hijjah.


d.      Shalat pada waktu-waktu tertentu, seperti shalat Dhuha, Shalat Mayyit, Shalat Istisqa, Shalat Safar (yang diambil dari Shalat Maktubah yang empat rakaat kerana adanya perjalanan dengan jalan dipersingkat, yaitu shalat qashar yang empat menjadi dua), shalat kusuf/khusuf.


PELAKSANA SHALAT

Yang wajib untuk menegakan shalat (baik khusus ataupun pengertian umum) adalah setiap yang telah menamakan dirinya Muslim, sehingga oleh Nabi disebutkan : ﻠﻴﺱﺒﻴﻥﺍﻠﻜﺎﻓﺮﻮﺗﺎﺮﻚﻟﺻﻼﺓﺤﺎﺋﻝ  “Tidak ada batas penghalang antara si kafir dengan yang meninggalkan shalat (nilainya sama)”. Karena pentingnya shalat yang ditegakan, sebab justru sebagai tiang tegaknya Dinul Islam, maka pendidikan sejak kecil pun terhadap shalat harus dimulai sebagai pembinaan kearah menuju adanya pengertian mengenai tatalaku yang harus diperbuat manusia Muslim, terlepas dia telah mengetahui maksud dan  tujuan shalat itu sendiri atau tidak.

Nabi muhammd menegaskan  :

ﻋﻟﻤﻮﺍﺍﻠﺼﺑﻰﺍﺼﻼﺓﺍﺑﻦﺴﺒﻊﺴﻧﻴﻦﯛﺍﺿﺮﺑﻮﻩﻋﻟﻴﮭﺎﺍﺒﻦﻋﺸﺮﺴﻧﻴﻦ  -   ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺗﺮﻤﺬﻱ


“Ajarkanlah kepada anakmu shalat lima waktu ia berumur 7 tahun dan tindaklah ia bila sewaktu berumur 10 tahun tidak mau shalat”. H.R. Tarmidzi

Usaha yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan shalat, perlu kita ketahui hal-hal seperti tersebut dibawah ini :


1.      Persiapan sebelumnya dan tempat melaksanakannya

2.      Praktik shalat sepanjang ajaran/contoh Rosullah

3.      Arti bacaan shalat.


1.      Persiapan Shalat dan Tempat Melaksanakannya

a.       Mulailah kita dengan terlebih dahulu mengambil air wudhu dengan cara berwudhu yang dicontohkan Rosullah :

ﻻﺼﻼﺓﻠﻣﻦﻻﻮﻀﻮﻠﻪﻭﻻﻮﺿﺅﻠﻪﻠﻤﻥﻟﻡﻴﺫﻜﺮﺍﺴﻡﺍﷲﻋﻠﻴﻪ  -  ﺮﻮﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ

“Tidak sah shalat orang yang tidak terlebih dahulu wudhu dan tidah sah wudhu seseorang yang tidak terlebih dahulu membaca Bismillah”. H.R. Ahmda


b.      Melalui kran air (tegasnya air yang dijamin kebersihan dan kesehatannya), cucilah terlebih dahulu kedua telapak tangan sampai bersih benar dengan senantiasa mendahulukan yang sebelah kanan daripada sebelah kiri.


c.       Berkumurlah sebanyak tiga kali tau dua kali, dimana salah satunya diteruskan untuk membersihkan hidung sebelah dalam.


d.      Cucilah bagian muka dengan rata sebanyak dua kali atau tiga kali.


 e.       Basuhlah tangan dengan terlebih dahulu yang sebelah kanan sampai batas kebatas sikutnya, begitu juga yang sebelah kiri dengan batasan dua atau tiga kali.


f.       Usaplah rambut dengan air yang ada ditelapak tangan dari batas sebelah muka/depan ditarik kebatas sebelah belakang kemudian ditarik lagi kemuka/batas sebelah depan dan diakhiri dengan jari-jari tangan sebelah kiri dan kanan dimasukan ke dalam telinga kemudia ibu jarinya mengusap sebelah luarnya.

Ini dilakukan cukup sekali saja.


g.      Cucilah kaki dua atau tiga-kali dengan mendahulukan yang  kanan dengan batas mata kakinya, jangan lupa sela-sela jari kaki dibersihkan pula.

Sebagai pelengkap, bacalah hadits ini yang merupakan tatacara pelaksanaan wudhu yang kita laksanakan seperti diatas tersebut :





“Dari Humran, Bahwasanya “Utsman r.a. Mempraktikan wudhu Rosul yaitu………..(seperti tersebut diatas)” H.R. Bukhori Muslim.

Kemudian dijelaskan pula :

ﺒﺪﺃﺒﻣﻘﺪﻢﺮﺃﺴﻪﺣﺗﻰﺫﻫﺐﺒﻬﻤﺎﺍﻟﻰﻔﻘﺎﻩﺛﻡﺮﺪﻫﻤﺎﺍﻠﻰﺍﻠﻰﺍﻟﻣﻜﺎﻥﺍﻠﺫﻥﺑﺪﺃﻣﻧﻪ

“Rosullah saw. Mulai mengusap rambutnya dari sebelah depan kemudian ditarik kesebelah belakangnyan kemudian ditarik kembali ketempat beliau memulai”. H.R. Bukhari dan Muslim

ﺛﻢﻣﺴﺢﺺ٠ﻢﺒﺮﺃﺴﻪﻮﺍﺩﺨﻞﺍﺻﺑﻌﻴﻪﺍﻟﺳﺑﺎﺣﺘﻴﻥﻔﻰﺃﻥﻧﻴﻪﻮﻤﺴﺢﺒﺎﺒﻬﺎﻣﻳﻪﻆﺎﻫﺮﺃﺫﻨﻳﻪ  -  ﺃﺧﺮﺠﻪﺃﺑﻭﺪﺍﻮﺪﻭﺍﻠﻧﺴﺎﺋﻰ ﻭﺻﺣﺣﻪ ﺍﺑﻥﺧﺯﻳﻤﺔ

“Kemudian Nabi Mengusap rambut dan kepalanya serta memasukan kedua telunjuknya kedalam telinganya dan ibu jarinya digunakan untuk mengusap telinga sebelah belakangnya”. H.R. Abu Dawud dan Nasaai.


h.      Bacalah Doa Setelah Berwudhu 

  

“Aku nyatakan sikap, bahwa sumber gerak hidup dan kehidupan ini tidak lain kecuali Ilmu Allah saja dan aku nyatakan sikap bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rosul Allah yang bertugas untuk memberikan contoh pelaksanaannya (sehingga ia merupakan contoh yang paling indah dalam kehidupanku ini). Ya Allah, jadikanlah aku ini hamba-Mu yang mampu untuk memperbaiki diri dengan ajaran-Mu, dan jadikanlah pula aku ini hamba yang senantiasa bersih dari segala laku perbuatan penuh dosa”. H.R. Muslim dan Tirmidzi


MAKSUD DAN TUJUAN WUDHU


Bentuk-bentuk formil yang dilakukan seorang muslim tidak bias dipisahkan dari yang dimaksud dan dituju dari laku perbuatan tersebut, tapi mengandung makna dan tujuan yang amat indah. Demikian pula halnya berwudhu, cobalah kita perhatikan.


1.      Mencuci tangan

Selain bentuk kotoran phisik yang menempel pada tangan, baik pada telapak tangan ataupun pada seluruh bagian tangan yang harus dicuci diwaktu wudhu, maka dalam gerak budayanya, kita berarti telah menyatakan sikap untuk tidak berbuat keonaran dan kesengsaraan terhadap sesama manusia yang dihasilkan oleh tangan-tangan kotor manusia, seperti mencuri, merima suap atau menyuap, merusak harta benda kepunyaan orang lain dan lain sebagainya dari laku perbuatan yang biasa dilaksanakan oleh anggota tangan yang merupakan pantulan dari kalbu yang terisi oleh kotoran.


2.      Berkumur dan membersihkan hidung

Bukan hanya sekedar kotoran yang menempel dimulut atau didalam hidung, tapi sebenarnya ia telah menyatakan satu sikap untuk tidak berbicara yang tidak ilmiyah, yaitu bicara ngelantur tanpa ilmu, tanpa ada manfaatnya, sebab selaku mukmin ia menyadari, bahwa diam adalah lebih daripada bicara tak karuan atau meyakiti manusia lain, ia bersikap tidak memfitnah orang lain, sebab dengan berbuat itu berarti mendorong orang lain untuk saling baku hantam.



3.      Mencuci Muka

Setelah kita bersihkan, berarti kita telah menyatakan satu sikap untuk berpandangan tegap dan tegas menurut Al-Qur’an dan Sunnah Rosul yang mampu memberikan kehidupan ampuh tiada tanding (Q.S. Ar-Rum 30). Muka adalah bagian yang paling menonjol pada diri manusia, karenanya hendaklah itu menggambarkan satu kehidupan Muslim. Begitupun mata yang ikut dibersihkan, mengandung makna untuk digunakan nikmat pemberian Allah ini seindah mungkin sesuai dengan apa yang telah digariskan, yaitu seperti untuk mempelajari Ilmu yang telah diajarkan Allah, menelaah sebaik-baiknya dan kemudian ia mau untuk berbuat dan bertindak menurut itu.


4.      Mengusap rambut dan telinga

Keindahan rambut dan penataanya, itulah senantiasa diusahakan oleh manusia, namun andaikata perintah Allah telah tiba, jangan berpikir berkepanjangan, janganlah menyayangi keindahan yang tak abadi, tegasnya jangan diperbudak oleh berbagai macam bentuk kebendaan, janganlah sayang dengan pengorbanan untuk kepentingan Dinullah. Bersihkan otak yang dibagian kepala kita dari pengaruh-pengaruh buruk hasil subjektivitasme manusia yang mengakibatkan kehancuran, akan tetapi isilah dengan yang bersih seperti halnya air itu sendiri yang bersih dan sanggup membersihkan segala macam kotoran. 

Itulah Ilmu Allah yang sanggup untuk menghancur leburkan segenap bentuk kotoran dan kedzulumatan hidup yang mengganggu cara berpikir sehat manusia akibat dorongan hawahu yang dominan dalam kalbu. Telinga kita, kita gunakan untuk mendengar dan merekam ayat-ayat Allah yang akan ditanggapi dan diolah oleh kalbu yang selanjutnya kita jadikan pedoman hidup. Janganlah dibiasakan untuk mendengar cacian, ocehan, fitnahan dan umpatan yang dilontarkan manusia-manusia lain, tapi gunakanlah pada tempatnya, sebeb dengan mendengar ayat-ayat Allah (sami’na) kemudian merubah sikap, jadilah kita manusia sebenarnya, yaitu manusia mukmin.


5.      Mencuci kaki :

Ia merupakan alat untuk menghantarkan tujuan manusia, karena itu tujukanlah hidup ini kepada yang diridhai oleh pencipta kita sendiri yakni Allah.

setelah selesai kita melaksanakan wudhu, berarti kita akan segera menuju ketempat shalat ialah masjid sebagai tempat tujuan untuk melaksanakan shalat maktubah, maka hendaklah diperhatikan hal-hal dibawah ini :

a.       Berpakaianlah sebaik dan sebersih mungkin, sebab toh kita akan menghadap kepada pencipta, pemelihara, pembimbing kita, tegasnya kita akan menghadap Allah. Al-Qur’an surat Al-A’araf 31 :  

Artinya : “Wahai manusia, gunakanlah pakaianmu yang baik dan rapih setiap kamu akan menyatakan ketundukan dan kepatuhanmu (kepada Allah)”.


b.      Lebih-lebih lagi bagi tetangga masjid atau yang sampai kepadanya panggilan adzan dari masjid, hendaklah melakukan shalat Maktubah didalam masjid, bila memang dalam keadaan sehat/ mengizinkan :

ﻣﻦﺴﻤﻊﺍﻠﻨﺪﺍﺀﻤﻦﺠﻴﺭﺍﻦﺍﻟﻤﺴﺩﻓﻠﻢﻳﺠﺏﻭﻫﻭﺻﺣﻴﺢﻤﻥﻏﻳﺭﻋﺫﺭﻓﻼﺻﻼﺓﻠﻪ

“Barang siapa yang mendengar panggilan adzan dari masjid. Kemudian tidak pergi padahal dia dalam keadaan sehat dan tak ada halangan, maka tida sah shalatnya”. H.R. Ahmad


c.       Bila masuk kedalam masjid, usapkanlah “salam” terlepas dari atau tidaknya orang didalam dan dahulukan kaki kanan diwaktu memasukinya, kemudian lakukanlah shalat “tahiyyatul masjid” bila memang waktunya mengizinkan.


d.      Disaat kita masuk kedalam masjid, kebetulan sedang didengarkan adzan, maka janganlah kita bercakap-cakap, janganlah dahulu duduk, jangan pula kita lakukan dahulu shalat, akan tetapi tetap berdirilah dan jawablah apa yang diucapkan oleh Muadzdzin, dimana setelah setelah selesai adzan, bacalah doa seperti berikut :


ﻋﻦﺟﺎﺑﺭﺃﻦﺭﺴﻭﻞﺍﷲ ﺺ۰ﻢﻘﺎﻝﻣﻥﻗﺎﻞﺣﻳﻥﻳﺳﻤﻊﺍﻟﻨﺪﺍﺍﻟﻟﻬﻢﺭﺏﻫﺫﻩﺍﻟﺪﻋﻮﺓﺍﻟﺘﺎﻣﺔﻭﺍﻟﺻﻼﺓﺍﻟﻗﺎﺌﻣﺔ


ﺁﺖﻤﺤﻤﺩﺍﺍﻟﻭﺼﻳﻟﻪﻭﺍﻟﻓﺿﻳﻟﺔﻭﺍﺑﻌﺛﻪﻤﻗﺎﻣﺎﻤﺤﻤﻭﺪﺍﺍﻠﺫﻱﻭﻋﺪﺘﻪ۰ﺣﻟﺖﻟﻪﺷﻐﺎﻋﺗﻰﻴﻮ

ﻡﺍﻟﻘﻳﺎﻤﺔ  -  ﺃﺨﺭﺟﻪﺍﻻﺭﺑﻌﺔ

“Dari Jabir, Nabi Menjelaskan : Barang siapa yang berucap pernyataan sikap setelah mendengar adzan (sebagai tanda panggilan) yaitu (yang artinya) : Ya, Allah, Ilmu-Mu-lah pembimbing kami kearah satu perubahan sikap yang sempurna dengan tehnis pembinaan diri dengan shalat yang ditegakan, jadikanlah Ilmu yang telah diajarkan kepada Muhammad utusan-Mu sebagai tehnis untuk mencapai kehidupan yang terpuji dan tiada cela seperti yang telah engkau janjikan. 

Orang berkesadaran seperti ini (setelah mendengar panggilan adzan tadi), dia berhak untuk mendapatkan kemenangan hidup dihari qiyamat nanti (sebagai ajru yang dijanjikan Allah kepadanya)”.  H.R. Empat Perawi (Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai dan Ibnu Majah)


e.       Shalat Tahiyyatal Masjid dapat dilakukan dan atau itu disebut shalat tahiyyatal masjid bila belum dikumandangkan adzan, umumnya apabila telah selesai adzan, maka yang harus kita lakukan adalag shalat tathawwu’ (Qabliyah) bila memang ada Sunnah Rosulnya dan waktu mengizinkan.


f.       Disaat sebelum dilakukan shalat berjamaah, komando geraknya adalah iqamat, dimana antara batasan adzan dengan iqamat itu oleh Nabi disebutkan kurang lebih sepanjang orang selesai makan.


g.      Mengumandangkan adzan hendaklah dengan suara nyaring, fasih, punya wudhu, dikumandankan dengan tidak terburu-buru, bisa didengar oleh segenap tetangga masjid dan lebih disukai orang yang telah biasa adzan. Iqamat dilakukan dengan cara yang agak berbeda dalam iramanya, yaitu harus dengan cepat.
 

0 comments: