RSS

Kamis

Sungguh Indah CaraMu Menegurku

Tak ada kejadian yang sia-sia. Semua terjadi atas izin-Nya. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diurai. Di balik setiap peristiwa pasti ada pelajaran yang bisa direnungi. Di balik setiap ketentuan pasti ada kebaikan yang bisa dipetik. Hanya terkadang kita sendiri yang enggan memaknai hikmah itu. Kita enggan berusaha untuk mencari pelajaran dari-Nya. Padahal, semua kejadian yang menimpa kita, pasti untuk kebaikan diri kita karena Allah sungguh mengetahui hal terbaik untuk hamba-Nya.

Allah pun Mahatahu cara menegur hamba-Nya. Kini aku sedang mendapat teguran itu. Sungguh indah cara Dia menyadarkanku. Hmm... tampaknya semua yang dialami manusia memang bukan kebetulan semata. Pasti itu atas rencana-Nya. Allah lah yang menuntun hati manusia untuk tergerak. Allah pula yang menuntunku untuk membaca sebuah buku berjudul Bidadari Bumi. Dari buku itu aku mendapat pelajaran luar biasa. Pelajaran yang menyadarkanku akan satu hal penting. Pelajaran yang membuatku terhenti untuk terus-menerus berkata "kenapa" dan "andaikan". Pelajaran yang membuatku mulai menerima keadaanku.

Kisah yang diceritakan di buku itu mirip sekali denganku. Kisah itu dipaparkan berdasarkan kejadian nyata, bukan fiksi belaka. Nah, kisah yang mirip denganku itu berkenaan dengan jauhnya jarak yang mesti ditempuh oleh sang tokoh untuk menuntut ilmu. Sang tokoh harus berjalan kaki paling tidak 2 km setiap hari. Dia harus melewati jalanan terjal bebatuan tanpa aspal, bahkan naik turun gunung tanpa pepohonan rindang. Sungguh, betul-betul perjalanan berat lagi melelahkan, apalagi jika dilakukan di musim panas yang suhunya mencapai 40 sampai 50 derajat celsius. Hal itu membuat sang tokoh merasa seolah-olah menjadi pendekar yang naik turun gunung untuk mengalahkan musuh besarnya.

Perjalanan jauh itu tak menghentikan niatnya untuk menuntut ilmu. Kakinya tetap melangkah bersama tetesan-tetesan keringat yang mengalir deras. Dengan kondisi begitu, sang tokoh malah berpikir tentang segala hal yang menjadikan kelelahannya tidak sia-sia. Ia sibuk berpikir agar perjalanan yang ditempuhnya terasa bermakna dan tiap langkahnya tak membawa penyesalan. Bersama tiap langkahnya, ia menghitung-hitung niat yang ada di benaknya. 

Subhanallah... niat yang dipikirkan sang tokoh itulah yang membuatku tertegun. Inilah untaian kalimat yang dipikirkan oleh sang tokoh.

Aku tinggal jauh di rumah itu dengan niat agar langkah-langkahku menempuh kebaikan menjadi lebih banyak, berarti lebih banyak pula nilai pahalaku dan tinggal di rumah yang bersatu dengan masjid memudahkanku untuk beriktikaf setiap waktu terutama karena masjid itu belum ramai dikunjungi orang. Pemandangan indah di sekitar masjid, pegunungan dengan bebatuan aneka warna bisa memudahkanku bertafakkur dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan.

Saat aku berjalan keluar menuju sekolah, kuniatkan setiap langkahku sebagai bentuk khidmah (pelayanan terhadap agama) kepada Allah dan Rasul-Nya juga berharap berkah dari para wali di negeri ini. Aku niatkan bersama tiap degup jantungku, seiring langkah-langkahku sebagai sarana mensyiarkan agama Islam karena aku melangkah untuk menuntut ilmu yang akan aku sampaikan pada saudara-saudara seiman ketika aku pulang ke negeriku nanti. Aku niatkan pula tiap desah nafasku untuk menyenangkan hati Rasulullah saw. di alam beliau sana karena dari sekian umatnya yang banyak lupa syariatnya, aku adalah satu dari sedikit mereka yang mau lelah mempelajari ajarannya untuk disebarluaskan kepada umatnya.
 (Bidadari Bumi: 25)  

Huhu... aku tergugu. Dulu, betapa seringnya aku mengeluhkan jauhnya jarak yang mesti kutempuh untuk menuntut ilmu. Betapa tak terhitungnya kalimat Kenapa rumahku jauh sekali? terlontar dari mulutku. Betapa mudahnya aku mengatakan kalimat Andaikan rumahku tidak sejauh ini. Aku begitu menyalahkan keadaan. Hingga sampai sudah kerja pun, aku masih suka mengeluhkan jauhnya jarak rumahku ke kantor.

Oh Allah, ternyata ada hikmah yang bisa kuperoleh dari perjalanan jauh sehari-hari yang biasa kutempuh. Ternyata semakin jauhnya langkah, aku malah berkesempatan mendapat pahala lebih banyak. Rumahku juga berada di dekat gunung. Setiap saat aku bisa memandang keindahan gunung itu dari kejauhan. Rumahku masih dikelilingi pohon, kebun, dan sawah. Setiap waktu aku bisa menikmati keindahannya dan menghirup udara yang masih fresh.

Ya, harusnya aku bersyukur karena dengan begitu aku lebih mudah bertafakkur. Aku harusnya bersyukur karena bisa menikmati indahnya ciptaan-Mu setiap waktu. Duh, Allah… terima kasih atas teguranmu. Semoga aku tak mudah lagi mengeluhkan keadaan rumahku yang jauh. Semoga jarak bukan lagi penghalang bagiku untuk menjemput dan menyebar kebaikan. Amin. by ai warni.

0 comments: