RSS

Selasa

MAKSUD DAN TUJUAN WUDHU

Bentuk-bentuk formil yang dilakukan seorang muslim tidak bias dipisahkan dari yang dimaksud dan dituju dari laku perbuatan tersebut, tapi mengandung makna dan tujuan yang amat indah. Demikian pula halnya berwudhu, cobalah kita perhatikan.
1.      Mencuci tangan
Selain bentuk kotoran phisik yang menempel pada tangan, baik pada telapak tangan ataupun pada seluruh bagian tangan yang harus dicuci diwaktu wudhu, maka dalam gerak budayanya, kita berarti telah menyatakan sikap untuk tidak berbuat keonaran dan kesengsaraan terhadap sesama manusia yang dihasilkan oleh tangan-tangan kotor manusia, seperti mencuri, merima suap atau menyuap, merusak harta benda kepunyaan orang lain dan lain sebagainya dari laku perbuatan yang biasa dilaksanakan oleh anggota tangan yang merupakan pantulan dari kalbu yang terisi oleh kotoran.
2.      Berkumur dan membersihkan hidung
Bukan hanya sekedar kotoran yang menempel dimulut atau didalam hidung, tapi sebenarnya ia telah menyatakan satu sikap untuk tidak berbicara yang tidak ilmiyah, yaitu bicara ngelantur tanpa ilmu, tanpa ada manfaatnya, sebab selaku mukmin ia menyadari, bahwa diam adalah lebih daripada bicara tak karuan atau meyakiti manusia lain, ia bersikap tidak memfitnah orang lain, sebab dengan berbuat itu berarti mendorong orang lain untuk saling baku hantam.
3.      Mencuci Muka
Setelah kita bersihkan, berarti kita telah menyatakan satu sikap untuk berpandangan tegap dan tegas menurut Al-Qur’an dan Sunnah Rosul yang mampu memberikan kehidupan ampuh tiada tanding (Q.S. Ar-Rum 30). Muka adalah bagian yang paling menonjol pada diri manusia, karenanya hendaklah itu menggambarkan satu kehidupan Muslim. Begitupun mata yang ikut dibersihkan, mengandung makna untuk digunakan nikmat pemberian Allah ini seindah mungkin sesuai dengan apa yang telah digariskan, yaitu seperti untuk mempelajari Ilmu yang telah diajarkan Allah, menelaah sebaik-baiknya dan kemudian ia mau untuk berbuat dan bertindak menurut itu.
4.      Mengusap rambut dan telinga
Keindahan rambut dan penataanya, itulah senantiasa diusahakan oleh manusia, namun andaikata perintah Allah telah tiba, jangan berpikir berkepanjangan, janganlah menyayangi keindahan yang tak abadi, tegasnya jangan diperbudak oleh berbagai macam bentuk kebendaan, janganlah sayang dengan pengorbanan untuk kepentingan Dinullah. Bersihkan otak yang dibagian kepala kita dari pengaruh-pengaruh buruk hasil subjektivitasme manusia yang mengakibatkan kehancuran, akan tetapi isilah dengan yang bersih seperti halnya air itu sendiri yang bersih dan sanggup membersihkan segala macam kotoran. Itulah Ilmu Allah yang sanggup untuk menghancur leburkan segenap bentuk kotoran dan kedzulumatan hidup yang mengganggu cara berpikir sehat manusia akibat dorongan hawahu yang dominan dalam kalbu. Telinga kita, kita gunakan untuk mendengar dan merekam ayat-ayat Allah yang akan ditanggapi dan diolah oleh kalbu yang selanjutnya kita jadikan pedoman hidup. Janganlah dibiasakan untuk mendengar cacian, ocehan, fitnahan dan umpatan yang dilontarkan manusia-manusia lain, tapi gunakanlah pada tempatnya, sebeb dengan mendengar ayat-ayat Allah (sami’na) kemudian merubah sikap, jadilah kita manusia sebenarnya, yaitu manusia mukmin.
5.      Mencuci kaki :
Ia merupakan alat untuk menghantarkan tujuan manusia, karena itu tujukanlah hidup ini kepada yang diridhai oleh pencipta kita sendiri yakni Allah.
setelah selesai kita melaksanakan wudhu, berarti kita akan segera menuju ketempat shalat ialah masjid sebagai tempat tujuan untuk melaksanakan shalat maktubah, maka hendaklah diperhatikan hal-hal dibawah ini :
a.       Berpakaianlah sebaik dan sebersih mungkin, sebab toh kita akan menghadap kepada pencipta, pemelihara, pembimbing kita, tegasnya kita akan menghadap Allah. Al-Qur’an surat Al-A’araf 31
Artinya : “Wahai manusia, gunakanlah pakaianmu yang baik dan rapih setiap kamu akan menyatakan ketundukan dan kepatuhanmu (kepada Allah)”.
b.      Lebih-lebih lagi bagi tetangga masjid atau yang sampai kepadanya panggilan adzan dari masjid, hendaklah melakukan shalat Maktubah didalam masjid, bila memang dalam keadaan sehat/ mengizinkan :
ﻣﻦﺴﻤﻊﺍﻠﻨﺪﺍﺀﻤﻦﺠﻴﺭﺍﻦﺍﻟﻤﺴﺩﻓﻠﻢﻳﺠﺏﻭﻫﻭﺻﺣﻴﺢﻤﻥﻏﻳﺭﻋﺫﺭﻓﻼﺻﻼﺓﻠﻪ
“Barang siapa yang mendengar panggilan adzan dari masjid. Kemudian tidak pergi padahal dia dalam keadaan sehat dan tak ada halangan, maka tida sah shalatnya”. H.R. Ahmad
c.       Bila masuk kedalam masjid, usapkanlah “salam” terlepas dari atau tidaknya orang didalam dan dahulukan kaki kanan diwaktu memasukinya, kemudian lakukanlah shalat “tahiyyatul masjid” bila memang waktunya mengizinkan.
d.      Disaat kita masuk kedalam masjid, kebetulan sedang didengarkan adzan, maka janganlah kita bercakap-cakap, janganlah dahulu duduk, jangan pula kita lakukan dahulu shalat, akan tetapi tetap berdirilah dan jawablah apa yang diucapkan oleh Muadzdzin, dimana setelah setelah selesai adzan, bacalah doa seperti berikut :
ﻋﻦﺟﺎﺑﺭﺃﻦﺭﺴﻭﻞﺍﷲ ﺺ۰ﻢﻘﺎﻝﻣﻥﻗﺎﻞﺣﻳﻥﻳﺳﻤﻊﺍﻟﻨﺪﺍﺍﻟﻟﻬﻢﺭﺏﻫﺫﻩﺍﻟﺪﻋﻮﺓﺍﻟﺘﺎﻣﺔﻭﺍﻟﺻﻼﺓﺍﻟﻗﺎﺌﻣﺔ
ﺁﺖﻤﺤﻤﺩﺍﺍﻟﻭﺼﻳﻟﻪﻭﺍﻟﻓﺿﻳﻟﺔﻭﺍﺑﻌﺛﻪﻤﻗﺎﻣﺎﻤﺤﻤﻭﺪﺍﺍﻠﺫﻱﻭﻋﺪﺘﻪ۰ﺣﻟﺖﻟﻪﺷﻐﺎﻋﺗﻰﻴﻮ
ﻡﺍﻟﻘﻳﺎﻤﺔ  -  ﺃﺨﺭﺟﻪﺍﻻﺭﺑﻌﺔ
“Dari Jabir, Nabi Menjelaskan : Barang siapa yang berucap pernyataan sikap setelah mendengar adzan (sebagai tanda panggilan) yaitu (yang artinya) : Ya, Allah, Ilmu-Mu-lah pembimbing kami kearah satu perubahan sikap yang sempurna dengan tehnis pembinaan diri dengan shalat yang ditegakan, jadikanlah Ilmu yang telah diajarkan kepada Muhammad utusan-Mu sebagai tehnis untuk mencapai kehidupan yang terpuji dan tiada cela seperti yang telah engkau janjikan. Orang berkesadaran seperti ini (setelah mendengar panggilan adzan tadi), dia berhak untuk mendapatkan kemenangan hidup dihari qiyamat nanti (sebagai ajru yang dijanjikan Allah kepadanya)”.  H.R. Empat Perawi (Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai dan Ibnu Majah)
e.       Shalat Tahiyyatal Masjid dapat dilakukan dan atau itu disebut shalat tahiyyatal masjid bila belum dikumandangkan adzan, umumnya apabila telah selesai adzan, maka yang harus kita lakukan adalag shalat tathawwu’ (Qabliyah) bila memang ada Sunnah Rosulnya dan waktu mengizinkan.
f.       Disaat sebelum dilakukan shalat berjamaah, komando geraknya adalah iqamat, dimana antara batasan adzan dengan iqamat itu oleh Nabi disebutkan kurang lebih sepanjang orang selesai makan.
Mengumandangkan adzan hendaklah dengan suara nyaring, fasih, punya wudhu, dikumandankan dengan tidak terburu-buru, bisa didengar oleh segenap tetangga masjid dan lebih disukai orang yang telah biasa adzan. Iqamat dilakukan dengan cara yang agak berbeda dalam iramanya, yaitu harus dengan cepat

0 comments: