RSS

Selasa

Puasa Dan Pelaksanaannya

1.         Shaum adalah tehnik untuk membina diri dan menjaganya dari perbudakan lingkungan dalam yaitu nafsu perut dan bawah perut kearah mencapai keseimbangan diri atas petunjuk ilmu Allah.
2.         Shaum secara negatif adalah “ﺍﻤﺳﺎﻚ” yaitu menahan diri dari rangsangan perut dan bawah perut (sex), praktisnya ialah tidak makan dan tidak minum atau melakukan hubungan seksual pada siang hari, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
3.         Secara positif adalah “ﺍﺳﺗﻮﺍﺀ”, yaitu menyeimbangkan diri, ucapan dan segenap laku perbuatannya, hatta dengan adanya tempaan lapar dan dahaga, yaitu untuk mencapai tingkat keunggulan berpikir dan berbuat menurut Ilmu Allah.
Al-Qur’an surat  Al-Baqarah 183
Artinya : “wahai orang-orang yang beriman! Telah menjadi ketetapan bagimu sekalian untuk melakukan pembinaan diri dengan shaum, sebagaimana telah ditetapkan kepada orang-orang sebelummu agar kamu sekalian dapat mencapai kondisi taqwa”.

Pada malam harinya, disamping memenuhi kebutuhan biologis, berupa makan, minum dan melakukan seksual bagi mereka yang bersuami istri, juga yang sangat penting adalah melakukan qiyamul lail, yakni bangun dikeheningan malam guna melakukan kesibukan-kesibukan berupa :
a.         Tartilul Qur’an tau Tadarus, yaitu mengkaji Al-Qur’an dengan seksama, meliputi bacaan, tulisan dan penguasaan maknanya.
b.        Sholatul lail yakni sholat dikala heningnya malam, disebut juga tahajud dengan witirnya yang berfungsi sebagai penambahan kemantapan sikap-sikap kejiwaan yang negatif sebagai endapan-endapan jahiliyah.
4.         Shaum adalah merupakan pengolahan dan pembinaan “tau dan mau”nya mungkin yang dilakukan sebulan penuh, bagaikan servis besar bagi sebuah mesin pada tiap-tiap tahun yaitu pada bulan Rhamadan dengan diakhiri oleh pengeluaran oleh zakat fithrah dan shalat idul fithri, dimana dengan servis besar ini akan terhapuslah dari para shaimin segala bentuk sikap dan laku perbuatan serba dosa yang senantiasa menodai dirinya, seperti disabdakan Nabi :
ﻤﻦ ﺼﺎ ﻢ ﺮﻤﺿﺎﻦ ﻧﻬﺎ ﺮﻫﺎ ﻮﻘﺎ ﻢ ﻠﻴﻠﻬﺎ ﺍﻴﻤﺎ ﻨﺎ ﻮﺍﺤﺘﺴﺎ ﺒﺎ ﺨﺮﺝ ﻤﻦ ﺬ ﻧﻮﺒﻪ ﻜﻴﻮﻢ ﻮﻠﺪ ﺖ ﺃﻤﻪ
“ Barang siapa melakukan saum pada siang harinya dibarengi pula dengan Qiyamul-lail diatas dorongan Iman dan kesadaran untuk tercapainya tujuan saum itu sendiri, maka sirnalah dari dirinya itu segala sikap dan tingkah laku yang serba merusakkesetimbangan fithrah hidupnya, seaka-akan dia berada dalam kondisi permulaan kehadirannya di dunia ini “ (Idul Pitri ) ” H. R Ibnu Khuzaemah.
Dengan kata lain, adalah penaka sebuah mobil yang baru selesai dari servis besar, segalanya dalam keadaan beres dan rapih, dimana daya mesinya dalam keadaan normal kembali, seolah-olah baru saja keluar dari pabrik, ready for use didalam memenuhu fithrahnya sebagai anggota masyarakat Kaljasadi.

TEHNIS PELAKSANAAN :
1.         Shaum yang telah menjadi ketetapan pokok ( wajib ) untuk dilaksanakan oleh setiap Muslim mukallaf adalah pada bulan Ramadlan selama sebulan penuh ( baik bilangan harinya 29 atau 30 hari ) dengan landasan-landasan dan tujuaan seperti diuraikan diatas tadi.
2.         Menjelang dating-Nya bulan Ramadlan, yaitu setengah bulan lagi memasuki bulan ramadlan, maka tidak diperbolehkan untuk melakukan shau tathawwu, kecuali memang masih punya kewajiban untuk melakukan qadla shaum, Nabi menjelaskan :
ﺍﻧﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒﺍﻠﺸﻌﺒﺎﻦ ﻔﻼ ﺘﺼﻮﻤﻮﺍ
“Apabila bulan Sya’ban telah mencapai separohnya, maka janganlah kamu melakukan shaum”. H.R. Lima Perawi Hadits
ﻻﻴﺗﻘﺩﻣﻥﺃﺣﺩﻜﻢﺭﻤﺿﺎﻥﺑﺼﻭﻢﻳﻭﻡﺃﻭﻴﻮﻣﻳﻥﺍﻻﺃﻥﻴﻜﻮﻥﺭﺟﻞﻛﺎﻥﻳﺼﻮﻡﺼﻮﻣﺎﻔﻟﻳﺻﻡ

“Tidak boleh seorang melakukan shaum menjelang datangnya bulan Ramadhan dengan sehari dan atau dua hari sebelumnya, kecuali dia punya kewajiban untuk qadla”. H.R. Bukhari
3.         Selama pelaksanaan shaum dibulan Ramadhan, bila dalam keadaan segar bugar, tidak ada halangan, tidak dalam perjalanan, tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui anaknya, tidak sakit, maka jangan meninggalkan shaum. Nabi menandasakan :
ﻣﻥﺃﻔﻁﺭﻔﻰﺮﻤﻀﺎﻥﺒﻐﻳﺮﻋﺫﺭﻟﻢﻴﻗﺿﻪﺼﻳﺎﻡﺍﻟﺪﻫﺮﺃﺒﺪﺍ
“Barang siapa berbuka dibulan Ramadhan (pada siang hari) tanpa alas an (buka karena ‘udzur), maka tidaklah sebenarnya ia bisa dengan di qadha oleh shaum seumur hidup sekalipun”.
4.         Sewaktu akan melakukan shaum, maka hendaklah terlebih dahulu melakukan sahur “ﺗﺳﺤﺭﻭﺍﻔﺎﻔﻰﺍﻠﺳﺤﻭﺭﺑﺭﻜﺔ” lakukanlah olehmu sahur, sebab dengan melakukannya berarti mengandung keberkahan”. H.R. Bukhari dan Muslim
5.         Bila datang waktunya untuk berbuka, maka segeralah kita melakukannya, sebaliknya bila sahur, hendaklah mengakhir :
ﻗﻝﺍﻟﻧﺑﻰﺺ٠ﻢ٠ﻻﻴﺯﺍﻞﺍﻟﻧﺎﺱﺑﺧﻳﺭﻣﺎﻋﺟﻠﻭﺍﺍﻟﻔﻃﺭ - ﻤﺗﻔﻖﻋﻠﻴﻪ
“Selamanya aka nada dalam kebaikan dan kesejahtraan seorang manusia yang menggerakan berbuka”. H.R. Bukhari dan Muslim
ﺳﺣﺮﻧﺎﻣﻊﺍﻠﻧﺑﻰ ﺺ٠ﻢ٠ﺛﻢﻔﺎﻡﺍﻟﻰﺍﻟﺻﻼﺓ ﻔﻘﻴﻞﻟﻪﻛﻢﻛﺎﻥﺒﻴﻥﺍﻷﺬﺍﻥﻭﺍﻟﺳﺤﻮﺭ؟
“Dari Said bin Tsabit : kami melakukan sahur bersama Rosullah tidak lama kemudian kami mendirikan shalat. Ia ditanya : berapa saat kiranya antara adzan (shubuh) dan sahur ?. Zaid menjawab : kira-kira membaca  lima puluh  ayat Al-Qur’an”.

6.         Bila berbuka, maka dahulukan makanan-makanan manis, jangan langsung makan nasi :
ﺍﺫﺍﺃﻓﻂﺮﺃﺤﺪﻛﻢﻓﻟﻳﻓﻂﺮﻋﻠﻰﺘﻣﺮﻓﺎﺍﻥﻠﻢﻳﺠﺪﻓﻠﻴﻔﻂﺮﻋﻠﻰﻣﺎﺀﻔﺎﻨﻪﻂﻬﻮﺮﻘﻞ׃ﻗﺩﺴﺮﺧﻤﺳﻳﻦ
“Apabila kamu berbuka, maka berbukalah dengan kurma (makanan yang manis), kalau tidak ada, maka cukuplah dahulu dengan air, sebab air itu bersih”. H.R. Lima Perawi
7.         Hal yang sangat penting untuk dilaksanakan pada bulan ramadhan yaitu yang berhubungan dengan “Qiyamul lail” dengan cara pelaksanaannya 4 rakaat, 4 rakaat dan 3 rakaat, berarti sebelas rakaat dengan tiga kali salam. Adapun pelaksanaannya adalah kehingan malam. Kira-kira jam 2.00 malam sampai menjelang fajar yang kemudian biasa melakukan shalat fajar sebanyak 2 rakaat. Atas dasar ini, kadang-kadang shalatul lail (qiyamul lail) disebutkan oleh para Muhaditsien, bahwa ia dilakukan dengan bilangan sebelas atau tiga belas rakaat.
8.         Pada saat seperti ini, kita lakukan tadarus Al-Qur’an yakni meliputi bacaan, penguasaan makna ataupun tulisan.
SHALAT TATHAWWU
Shaum Tathawwu adalah shaum yang dilaksanakan oleh seorang muslim selain bulan Ramadhan dengan landasan adanya kesadaran Ilmu yang diajarkan oleh Allah dengan contoh pelaksanaan oleh Rosullah.
Sepanjang Sunnah Rosul, maka Shaum Tathawwu itu adalah :
1.         Enam hari dibulan syawal :
ﻣﻥﺼﺎﺮﻣﻀﺎﻥﺛﻢﺃﺘﺑﻌﻪﻤﻥﺸﻭﺍﻞﻛﺎﻦﻜﺼﻳﺎﻡﺍﻠﺩﻫﺮ -  ﺮﻭﺍﻩﻣﺴﻠﻡ
“Dari Ayyub Al-Anshary, Sabda nabi : Barang siapa yang melakukan shaum pada bulan Ramadhan kemudian dibarengi pula dengan enam hari pada bulan syawal, maka nilainya sama dengan shaum setahun”. H.R. Muslim 
2.         Minimal dalam satu bulan melakukan shaum tiga kali :
ﺃﻤﺮﻧﺎﺍﻠﻨﺑﻰﺹ٠ﻢ٠ﺃﻦﻧﺼﻮﻡﻣﻥﺍﻠﺸﻬﺮﺜﻼﺜﺄﻳﺎﻡ׃ﺜﻼﺚﻋﺸﺮﺓﻮﺃﺮﺒﻊﻋﺸﺮﺓﻭﺨﺲﻋﺸﺮﺓ
“Rosullah memerintahkan kepada kami untuk melakukan shaum minimal dalam setiap bulannya tiga kali, yaitu tanggal 13, 14 dan pada tanggal 15”.H.R. Nasaai, Tirmidzi
3.         Shaum hari Senin dan Kamis
ﻋﻦﻋﺎﺌﺸﺔ׃ﻛﺎﻦﺍﻠﻧﺒﻰﺺ۰ﻡ۰ﻴﺗﺤﺮﻯﺻﻳﺎﺍﻻﺷﻨﻴﻦﻮﺍﻠﺨﻤﻳﺲﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺗﺭﻣﺫﻯ
“Dari Aisyah : Nabi memilih waktu untk melakukan shaum pada hari senin dan hari kamis”. H.R. Tirmidzi
4.         Shaum pada bulan Sya’ban
ﻣﻥﻋﺎﺌﺸﺔ׃ﻤﺎﺮﺃﻴﺖﺭﺴﻭﻞﺍﷲﺺ۰ﻡ۰ﺍﺴﺘﻛﻤﻞﺼﻴﺎﻢﺷﻬﺮﻘﻂﺍﻻﺴﻬﺮﺮﻤﺿﺎﻦﻭﻤﺎﺮﺃﻳﺗﻪﻓﻰﺸﻬﺮﺃﻛﺛﺮﻤﻨﻪﺼﻴﺎﻤﺎﻔﻰﺷﻌﺑﺎﻦ - ﻤﺗﻔﻖﻋﻠﻴﻪ
“Dari Aisyah : Saya tidak pernah melihat Rosullah menyelesaikan shaum sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau melakukan shaum pada setiap bulannya kecuali pada bulan sya’ban”. H.R. Bukhari dan Muslim
5.         Selain dari yang tertulis diatas mdalam kita melakukan shaum, maka Sunnah mengajarkan kepada kita untuk melakukan shaum pada hari ke Sembilan Dzul Hijjah (hari ‘Arafah) bagi orang yang tidak melaksanakan haji (sedang bagi orang yang melakukan ibadah haji tidak diperbolehkan. Juga pada hari kesepuluh bulan Muharram.
6.         Shaum yang sering dilakukan Nabi dalam rangka memperlihatkan ketidaksamaan antara sistem hidup Islam dan selainnya, Nabi melakukan shaum pada hari Sabtu dan minggu :
ﻋﻦﺃﻢﺴﻣﺔﺃﻥﺍﻠﻨﺒﻰﺺ۰ﻢ۰ﻛﺎﻥﺃﻜﺜﺮﻤﺎﻴﻭﻣﺎﻣﻥﺍﻷﻴﺎﻢﻴﻭﻢﺍﻠﺳﺑﺖﻭﻴﻭﻢﺍﻷﺣﺩﻭﻛﺎﻦﻳﻗﻭﻞ׃ﺍﻧﻬﻤﺎﻳﻭﻢﻋﻳﺩﻠﻠﻤﺸﺮﻛﻳﻥﻮﺃﺮﻳﺩﺃﻥﺧﺎﻟﻓﻬﻡ - ﺍﻠﻧﺳﺎﺋﻰ
“Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rosullah lebih sering melakukan shaum pada hari sabtu dan ahad, Nabi menjelaskan : kedua hari tersebur adalah hari rayanya orang-orang musyrik, karena aku ingin lain dengan mereka”. H.R. Nasaa’i
Hari-hari yang tidak boleh melakukan Shaum
1.         Shaum dikhususkan pada hari Jum’at
ﻻﻴﺻﻡﻣﻥﺃﺣﺪﻛﻡﻴﻭﻡﺍﻠﺟﻣﻌﺔﺍﻻﺃﻥﻳﺻﻭﻢﻳﻭﻤﺎﻗﺑﻠﻪﺃﻭﺑﻌﺩﻩ - ﻣﺗﻓﻕﻋﻠﻳﻪ
“Tidak boleh kamu lakukan shaum pada hari jum’at, kecuali memang kamu terlebih dahulu shaum pada hari sebelumnya ataupun shaum pula pada hari sesudahnya”. H.R. Bukhari dan Muslim
Kemudian Nabi menjelaskan pula :
ﻻﺗﺨﺻﻮﺍﻠﻴﻠﺔﺍﻠﺟﻤﻌﺔﺑﻗﻴﺎﻢﻣﻥﺒﻴﻥﺍﻠﻠﻴﺎﻠﻰﺗﺨﺻﻭﺍﻳﻭﻢﺍﻟﺟﻤﻌﺔﺑﺻﻴﺎﻢﻤﻥﺒﻴﻥﺍﻷﻴﺎﻡﺍﻻﺃﻥﻳﻛﻭﻥﻔﻰﺻﻮﻡﻴﺻﻮﻤﻪﺃﺤﺪﻛﻢ - ﺮﻮﺍﻩﻤﺴﻠﻡ
 “Janganlah khususkan malam jum’at itu untuk Qiyamul lail dan jangan pula kamu khususkan untuk melakukan shaum pada hari itu kecuali memang kamu punya kewajiban untuk mengqadha”. H.R. Muslim

2.         Shaum pada ‘Iedul Fithri dan Adha
ﺃﻥﺮﺳﻭﻞﺍﷲﺺ۰ﻡ۰ﻧﻬﻰﻋﻦﺻﻴﺎﻡﻳﻭﻤﻴﻥ׃ﻳﻭﻢﺍﻠﻔﻁﺮﻭﻳﻭﻢﺍﻠﻨﺣﺮﻣﺘﻔﻕﻋﻠﻳﻪ
“Nabi melarang untuk melakukan shaum pada hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Qurban”. H.R. Bukhari dan Muslim
3.         Shaum pada hari Tasyriq (Shaum pada tanggal 11 – 13 bulan Haji)
ﺃﻴﺎﻢﺍﻠﺘﺸﺭﻴﻖ׃ﺃﻴﺎﻡﺃﻛﻞﻭﺫﻛﺭﺍﷲﻋﻭﺟﻞ - ﺮﻭﺍﻩ ﻤﺴﻠﻡ
“Hari Tasyriq adalah untuk makan, minum dengan tidak melepaskan diri dari sadar terhadap ketentuan-ketentuan Allah”. H.R. Muslim
4.         Shaum terus-terusan
ﻗﻞﺍﻟﻨﺒﻳﻰﺺ۰ﻡ۰׃ﻻﺻﺎﻢﻤﻥﺻﺎﻢﺍﻷﺑﺩ - ﻤﺗﻓﻖﻋﻠﻳﻪ
“Tidak ada shaum bagi orang yang melakukan terus-terusan shaum”. H.R. Bukhari dan Muslim
5.         Seorang melakukan shaum disaat suaminya ada dirumah dengan tidak seizinnya terlebih dahulu
ﻻﻳﺣﻞﻠﻠﻤﺮﺃﺓﺃﻦﺘﺼﻭﻡﻭﺯﻮﺟﻬﺎﺷﺎﻫﺩﺍﻻﺑﺎﺫﻨﻪ
“Tidak boleh seorang isteri untuk melakukan shaum disaat suaminya ada dirumah kecuali dengan seizinnya”. H.R. Bukhari dan Muslim
QADHA SHAUM dan FIDYAH
Nabi menjelaskan  :
ﻋﻦﻋﺎﺌﺸﺔ׃ﻛﻨﺎﻨﺆﺒﻗﺿﺎﺀﺍﻠﺼﻭﻡﻭﻻﻨﺅﻣﺮﺑﻗﺿﺎﺀﺍﻟﺼﻼﺓ׃ﺭﻮﺍﻩﺍﻟﺒﺧﺎﺮﻯ
“Kita diperintahkan untuk mengqadha shaum dan tidak diperintahkan untuk melakukan qadha shalat.” H.R. Bukhari
Dimaksudkan dengan qadha shaum adalah mengganti hari yang seharusnya kita lakukan dibulan Ramadhan untuk shaum, tapi tersebab satu hal terpaksa kita tidak bias melaksanakannya sehingga kita melakukan shaum qadha pada bulan-bulan lainnya. Adapun qadha shaum yang boleh dilakukan itu adalah untuk orang sakit, melakukan hubungan seks pada siang hari bulan Ramadhan dan atau dalam keadaaan haid, dengan beberapa ketentuan qadha seperti berikut :
a.         Yang diwajibkan untuk mengqadha shaum sebanyak hari yang dia tidak dapat melaksanakannya dibulan Ramadhan adalah :
1.      Al-Qur’an surat Al-Baqarah 185

Artinya : “Dan barang siapa yang sakit atau sedang dalam safar, maka hendaklah ia melakukan qadha shaum pada hari yang lain, menurut bilangan hari yang ia lakukan untuk berbuka, Allah dengan ketetapan Ilmu-Nya menghendaki adanya kemudahan dan bukan untuk supaya menjadikan sulit bagimu”.
2.      Bagi yang haid atau nifas (karena habis melahirkan). Nabi menjelaskan :
ﻋﻦﻤﻌﺎﺫﺓﻗﺎﻠﺖ׃ﺴﺄﻠﺖﻋﺎﺋﺷﺔﻓﻗﻠﺖ׃
ﻤﺎﺑﺎﻞﺍﻟﺣﺎﺋﺹﺍﻠﺻﻭﻡﻭﻻﺘﻗﺾﺍﻟﺼﻼﺓﻗﻠﺕ׃ﻜﺎﻥﻳﺻﻴﺑﻨﺎﺫﻠﻚﻤﻊﺭﺳﻭﻞﺍﷲﺺ۰ﻢ۰ﻔﻧﺅﻤﺮﺒﻘﺿﺎﺀﺍﻠﺻﻭﻡﻭﻻﻨﺅﻤﺭﺑﻗﺿﺎﺀ
ﺍﻠﺻﻼﺓ - ﺮﻭﺍﻩﺍﻠﺠﻤﺎﻋﺔ
“Dari Mu’dzah : Saya telah bertanya kepada Aisyah : Bagaimanakah orang yang haid melakukan qadha shaum sedangkan shalat tidak diperintah?. Jawab ‘Aisyah : Telah kami alami haid dimana Rosullah, maka kami disuruh untuk melakukan qadha shaum dan tidak disuruh untuk qadha shalat”. H.R. Jamaah
3.      Melakukan qadla shaum karena tidak melakukan hubungan sex pada siang hari bulan Rhamadan, maka qadlanya adalah : “selama dua bulan terus menerus”.  
b.         Yang wajib melakukan Fidyah karena tidak bisa Qadla shaum :
1.      Orang tua yang sudah sangat lemah karena ketua-annya, dijelaskan oleh AlQuran s. Al baqarah 184 :
“Dan atas orang yang bias melakukan shaum tapi dilakukan dengan amat payah (karena tua, lemah), maka baginya hendaklah membayar fidyah yang diberikan kepada orang miskin”.
2.       Orang hamil dan yang sedang menyusui anaknya yang dikhawatirkan akan mengganggu yang menjadi tanggung jawabnya, oleh Nabi Muhammad dijelaskan
“Sesungguhnya Allah kewajiban bagi musafir untuk dia melakukan shaum dan mengqashar shalat dan terhadap orang yang sedang mengandung (hamil) atau yang sedang menyusui anaknya untuk tidak melakukan shaum”. H.R. Lima Perawi Hadits.
3.      Selanjutnya Nabi lebih menjelaskan lagi untuk melakukan fidyah tanpa melakukan qadla shaum terhadap orang tua lemah seperti yang tersebut dalam penegasannya:

“Diberi kelonggaran bagi orang yang telah lanjut usia supaya ia berbuka dengan ketentuan wajib membayar fidyah tanpa untuk melakukan qadha shaum”. H.R. Daruquthni dan Hakim.
4.      Bagi yang melakukan hubungan sex pada siang hari dibulan Ramadhan, bila dia tidak mampu untuk melakukan shaum selama dua bulan berturut-turut, maka hendaklah ia mengeluakan fidyah untuk sebanyak 60 orang miskin, tiap-tiap orang satu mud (liter).
c.          Melakukan qadha dan fidyah hanyalah untuk orang yang seharusnya pada tahun itu dia melakukan qadha, namun tidak sempat atau tidak bisa melakukannya. Sehingga dating lagi bulan Ramadhan yang baru. Maka ia diharuskan untuk mengqadha shaumnya dibarangi fidyah pada bulan berikutnya.
d.        Melakukan qadha saum untuk orang lain
Hal ini dapat dilakukan karena yang seharusnya melakukan qadha shaum tersebut meninggal dunia dari sakit yang dideritanya. Adapun yang melakukannya adalah dari keluarga si mayit tersebut.

Nabi Muhammad menjelaskan : 
“Barang siapa meninggal dunia dengan meninggalkan kewajiban qadha shaum, maka hendaklah walinya melakukan shaum untunya”.
Juga hal ini berlaku bagi yang mempunyai dasar shaum ia sendiri tidak sempat melaksanakannya karena meninggal dunia, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad :


“Dari Ibnu Abbas, Sesungguhnya seorang wanita telah bertanya kepada Rosullah saw. Ya Rosullah, ibu saya telah meninggal dunia padahal ia meninggalkan puasa nadzar yang belum sempat dilakukannya, apakah saya boleh menggantikan shaum untuknya? Nabi menjawab : Bagaimana pendapatmu bila ibumu mempunyai hutang kemudian engkau membayarkan untuknya, apakah lunas hutang ibumu?, wanita itu menjawab : tentu saja lunas!, Nabi bersabda : kalau begitu lakukanlah shaum untuk mengganti shaum untuk mengganti shaum ibumu”. H.R. Muslim

0 comments: